Aksi penembakan di kompleks masjid kawasan San Diego, California, Amerika Serikat (AS) mengakibatkan tiga warga sipil tewas pada Senin (18/5/2026). Dilansir dari Detikcom, para korban gugur ketika berupaya menyelamatkan 140 anak yang berada di dalam rumah ibadah tersebut.
Kepolisian setempat mengidentifikasi dua pelaku penembakan sebagai Caleb Liam Vazquez (18) dan Cain Lee Clark (17). Kedua remaja tersebut ditemukan meninggal dunia karena bunuh diri di dalam sebuah mobil setelah melancarkan aksinya.
Tiga korban tewas dalam peristiwa tragis ini diidentifikasi bernama Amin Abdullah (51), Nadir Awad (57), dan Mansour Kaziha (78). Amin Abdullah, yang bekerja sebagai petugas keamanan masjid, berperan besar dalam mencegah bertambahnya jumlah korban jiwa.
Kepala Polisi San Diego, Scott Wahl, menjelaskan bahwa Abdullah sempat membalas tembakan ketika pelaku merangsek masuk. Petugas keamanan itu juga langsung mengumumkan penguncian wilayah melalui radionya guna melindungi jemaah di dalam masjid.
Usaha Abdullah menahan pelaku di area parkir membuatnya gugur akibat luka tembak. Scott Wahl memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap tindakan berani yang dilakukan oleh petugas keamanan tersebut.
"Sangat tepat untuk mengatakan bahwa tindakan yang dilakukannya adalah sebuah aksi heroik," terang Scott Wahl, Kepala Polisi San Diego.
Setelah melumpuhkan Abdullah, para penembak sempat memeriksa ruangan-ruangan masjid yang sudah kosong akibat sistem penguncian. Ketika beralih kembali ke area parkir, pelaku dihadang oleh Mansour Kaziha dan Nadir Awad yang berusaha menelepon nomor darurat sebelum keduanya ikut ditembak mati.
Kepribadian Abdullah semasa hidup meninggalkan kesan yang mendalam bagi lingkungan sekitarnya. Dia dikenal oleh komunitas Muslim setempat sebagai sosok penjaga yang ramah dan selalu menunjukkan kepedulian tinggi terhadap keselamatan orang lain.
"Abdullah menyapa semua pengunjung masjid dengan senyuman dan salam muslim," kata Mahmood Ahmadi, seorang jemaah Masjid San Diego.
Dedikasi tinggi Abdullah dalam bekerja juga diungkapkan oleh salah satu rekan dekatnya, Syekh Uthman Ibn Farooq. Almarhum bahkan rela menunda waktu makam demi memastikan keamanan penuh di area masjid selama jam tugasnya.
"Ia ingin menyimpan makanannya sampai setelah selesai bekerja karena takut jika sedang istirahat, sesuatu yang buruk akan terjadi," kata Syekh Uthman Ibn Farooq, teman Abdullah.
Abdullah merupakan seorang mualaf yang memeluk agama Islam sejak tahun 1990-an setelah menyelesaikan pendidikan sekolahan. Selain aktif di masjid, ayah dari delapan anak ini sangat bangga dengan profesinya sebagai penjaga keamanan komunitas.
Rekan lainnya, Khalid Alexander, menyebutkan bahwa mereka sering mendiskusikan kekhawatiran terkait peningkatan sentimen negatif terhadap kelompok Muslim di televisi. Surat-surat kebencian yang beberapa kali diterima pihak masjid menjadi alasan utama pengetatan keamanan.
"Itu adalah pekerjaan impiannya," ujar Khalid Alexander, rekan Abdullah.