Model kecerdasan buatan (AI) terbaru bernama PriMAT berhasil diciptakan oleh para peneliti untuk melacak multi hewan secara sekaligus. Teknologi visi komputer ini dirancang khusus agar mampu mendeteksi pergerakan berbagai spesies primata di dalam kawasan hutan yang lebat.
Seperti diberitakan oleh Media Indonesia, kehadiran inovasi ini membawa perubahan besar bagi para peneliti biologi. Selama ini, para ahli harus menghabiskan waktu berjam-jam di tengah kondisi alam liar yang tidak nyaman hanya demi memperoleh rekaman video monyet yang jelas.
Pemanfaatan PriMAT membuat para ilmuwan dapat memperoleh data yang jauh lebih akurat dan berharga. Selain itu, mereka kini bisa menghindari risiko gigitan serangga tanpa harus terus-menerus bersembunyi di dalam hutan belantara.
Pengumpulan data satwa oleh para ahli biologi sebelumnya sangat bergantung pada ketahanan fisik masing-masing individu. Metode otomatis terdahulu, seperti deteksi titik kunci (keypoint detection), hanya dapat berfungsi dengan baik pada lingkungan yang stabil.
Ketika kamera berhasil menangkap siluet seekor monyet, perangkat konvensional tersebut biasanya gagal melacak pergerakan target setelah berpindah sejauh beberapa meter. Kegagalan sistem pelacakan digital kerap terjadi saat hewan melangkah ke area bayangan atau bergerak di balik semak yang tebal di hutan hujan rimbun.
Perubahan kondisi lingkungan yang sederhana tersebut sering kali merusak persiapan pengamatan yang telah memakan waktu lama. Hal ini tidak jarang memicu frustrasi di kalangan para peneliti di lapangan.
Lompatan Teknologi Pengamatan Lewat PriMAT
Kehadiran teknologi AI berhasil memberikan solusi efektif atas kendala tersebut. Dilansir dari AOL, tim peneliti internasional mengembangkan PriMAT dengan sistem yang belajar mendeteksi primata menggunakan kotak pembatas (bounding boxes).
Sistem kotak pembatas ini memiliki efektivitas lebih tinggi karena mampu mengunci target secara konsisten. Alat ini terus mengikuti pergerakan objek meskipun terjadi perubahan cahaya dan gerakan yang rumit.
Pengujian pada lemur di alam liar menunjukkan bahwa AI ini mampu memprediksi identitas hewan dengan tingkat akurasi mencapai 83 persen hanya dari beberapa ratus bingkai video. Tingkat keberhasilan yang serupa juga terbukti saat sistem diuji pada spesies lain seperti babon, gorila, hingga simpanse.
Teknik baru tersebut terbukti ampuh dalam melacak individu primata tertentu tanpa terpengaruh oleh kerumitan perilaku atau pergerakan mereka. Keunggulan terbesar dari PriMAT adalah proses analisisnya yang tidak harus dilakukan secara langsung di lapangan.
Para ahli biologi kini tidak perlu membuang ribuan jam rekaman video yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Lewat PriMAT, analisis rekaman video yang panjang dapat diselesaikan secara otomatis hanya dalam hitungan menit.
Meskipun teknologi ini masih berada dalam tahap awal perkembangan, efektivitasnya menjadi pembuka gerbang bagi sisi sains yang sebelumnya tersembunyi di balik lebatnya hutan belantara.