Ajang Jakarta Job Fair yang diselenggarakan di Gelanggang Remaja Jakarta Utara pada Rabu (20/5/2026) dipadati oleh para pencari kerja. Namun, kegiatan tersebut diwarnai kegelisahan dari sejumlah pencari kerja muda yang merasa latar belakang pendidikan tinggi mereka belum mempermudah proses mendapatkan pekerjaan, seperti dilansir dari Megapolitan.
Kondisi minimnya lowongan yang relevan dirasakan langsung oleh Iki (23), seorang lulusan Teknik Sipil tahun 2025 yang sempat bekerja namun memilih mengundurkan diri demi mencari peluang baru.
"Kalau untuk perusahaannya sih udah banyak sih. Tapi kekurangannya itu kemungkinan dari background saya sendiri sih. Saya ngerasa secara pribadi, background saya tidak ada di sini," ujar Iki.
Pria tersebut menyayangkan apabila kompetensi akademik yang telah ditempuh di bangku kuliah tidak dapat diterapkan di dunia kerja.
"Pengin coba hal baru lagi, buat berkembang lagi. Tapi yang background-nya sesuai dengan pendidikan," kata Iki.
Iki menambahkan bahwa harapan besar dari orangtua juga kerap menjadi beban pikiran tersendiri saat menghadapi sulitnya persaingan kerja.
"Jangan sampai kita udah kuliah tinggi-tinggi, orang tua udah naruh harapan sama kita, jangan sampai terbuang sia-sia aja," ujar Iki.
Menurutnya, memiliki ijazah tidak lagi memadai tanpa didukung oleh perluasan jaringan pertemanan profesional.
"Kalau buat nyari kerja sih emang agak-agak susah. Terus kalau kita enggak bangun relasi lebih ya emang susah," ucap Iki.
Keluhan mengenai dominasi posisi penjualan atau sales juga diutarakan oleh Along Galang Lumbantoruan (25), alumnus S1 Teknik Geofisika yang sengaja datang jauh-jauh dari Bekasi.
"Berangkat dari Bekasi itu sekitar pukul 09.30 WIB, nyampe di sini sekitar pukul 10.30 WIB," kata Along.
Pria asal Sumatera Utara ini mengungkapkan bahwa dirinya telah menganggur dan aktif mencari pekerjaan selama hampir setahun terakhir.
"Kalau untuk saya udah hampir setahun lah untuk mencari kerja," ujar Along.
Along menyebut mayoritas perusahaan yang membuka stan lebih banyak membutuhkan tenaga pemasaran dibandingkan sektor industrial.
"Kebanyakan sekarang yang berkembang itu ya yang dicari ya sales gitu," tutur Along.
Dirinya semula menargetkan posisi management trainee (MT), tetapi ketersediaan lowongan untuk program tersebut sangat terbatas di lokasi.
"Nyampe di sini (lowongan) MT-nya kurang gitu," kata Along.
Along mengharapkan bursa kerja berikutnya dapat merangkul korporasi dari sektor manufaktur, pertanian, hingga pertambangan.
"Kalau ada job fair berikutnya lagi ya beberapa perusahaan dikembangin lagi ke sektor-sektor yang untuk pabrik atau pertanian. Kalau dari saya sendiri pribadi penginnya sih ada tambang juga," tutur Along.
Selain lulusan sarjana, hambatan dalam memperoleh pekerjaan turut dirasakan oleh pencari kerja dengan latar belakang pendidikan menengah.
"Kalau pekerjaan sih banyak, tapi untuk syarat-syaratnya itu banyakannya itu S1 kan. Jadi sulit buat yang lulusan SMK," kata Nabil Anis Sofar (19), seorang lulusan SMK.
Nabil berharap penyelenggara dapat meningkatkan kuota lowongan kerja yang ramah bagi para lulusan baru dari jenjang sekolah kejuruan.
"Kalau bisa banyakin aja lowongan pekerjaan gitu. Mempermudah yang nyari kerja," tambah Nabil.