Pemutaran film Pesta Babi berlangsung di Coffee Shop Piltik, Kecamatan Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, pada Sabtu (16/5). Langkah ini menjadi sorotan setelah sinema tersebut sempat menuai beragam respons hingga penolakan di sejumlah daerah.
Tingginya polemik justru mendorong rasa penasaran sebagian masyarakat untuk menyaksikan langsung pesan di dalamnya. Seperti diberitakan oleh Media Indonesia, agenda nonton bareng (nobar) yang dimulai sejak pukul 17.00 WIB ini berjalan kondusif serta mendapat antusiasme tinggi.
Isu mengenai babi di Sumatra Utara akhir-akhir ini memang kerap memicu perdebatan publik. Mulai dari wacana wisata halal di Kabupaten Samosir, dugaan pembatasan penjualan daging babi di Kota Medan, hingga penolakan pemutaran film Pesta Babi di beberapa wilayah.
Walaupun mengusung judul Pesta Babi, karya sinematik ini sama sekali tidak mengulas tentang kuliner, metode memasak, ataupun cita rasa daging babi. Fokus utama cerita justru menampilkan potret kehidupan masyarakat di Tanah Papua.
Alur tayangan memperlihatkan perjuangan warga setempat dalam mempertahankan adat istiadat, identitas budaya, serta tanah ulayat mereka. Pesan sosial yang diangkat dinilai menyentuh hati penonton karena menyoroti hak-hak masyarakat adat menghadapi tantangan zaman.
Setelah pemutaran selesai, rangkaian acara berlanjut dengan sesi diskusi santai namun tetap bermakna. Para peserta saling bertukar pikiran mengenai nilai tradisi, urgensi menjaga wilayah adat, hingga refleksi situasi sosial komunitas adat di Indonesia.
"Film Pesta Babi memiliki banyak makna yang harus kita renungkan," ujarnya singkat, Sabtu (16/5).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pembele Butar Butar (51), salah satu penonton yang hadir dalam kegiatan nobar dan mengaku memetik banyak pesan moral positif.
Tanggapan Mahasiswa dan Pemilik Lokasi
Pendapat serupa diutarakan oleh seorang mahasiswa di Tarutung yang memilih untuk tidak menyebutkan identitasnya. Menurutnya, sinema ini menyimpan kedalaman pesan moral, terutama terkait eksistensi budaya dan pergerakan masyarakat adat.
Di sisi lain, Edward Tigor Siahaan selaku pemilik Coffee Shop Piltik bersama sang istri, Vera P. Hutauruk, tampak menyambut hangat kehadiran para pengunjung. Mereka berharap situasi tetap kondusif selama hingga sesudah pemutaran film.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Sabastian Hutabarat, warga Kabupaten Toba, yang sengaja meluangkan waktu demi mengikuti seluruh rangkaian acara dari awal hingga selesai.