Pemulihan Laut Aral Utara Dorong Ekonomi dan Ekosistem Regional

Pemulihan Laut Aral Utara Dorong Ekonomi dan Ekosistem Regional
Foto: Ilustrasi Pemulihan Laut Aral Utara Dorong Ekonomi dan Ekosistem Regional.

Upaya restorasi di bagian utara Laut Aral, Kazakhstan, berhasil memulihkan ekosistem dan meningkatkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat lokal setelah mengalami penyusutan drastis selama puluhan tahun akibat pengalihan aliran sungai pada era Soviet.

Kondisi terkini yang dilaporkan pada Selasa (5/5/2026) melalui Lestari menunjukkan bahwa Laut Aral yang sempat menyusut hingga kurang dari sepersepuluh ukuran aslinya kini mulai menampung stok ikan kembali berkat keberadaan Bendungan Kokaral.

Penyusutan danau yang dahulu merupakan terbesar keempat di dunia ini meninggalkan kapal-kapal berkarat serta gurun beracun Aralkum yang tertutup garam dan bahan kimia pertanian. Krisis ini bermula pada 1960-an saat sungai Amu Darya dan Syr Darya dialihkan untuk irigasi ladang kapas.

Zauresh Alimbetova, Presiden Asosiasi Publik Aral Oasis, menyatakan bahwa pembangunan Bendungan Kokaral pada 2005 dengan dukungan Bank Dunia telah memberikan dampak nyata bagi penduduk di wilayah pesisir utara.

"Lapangan kerja baru tercipta, dan orang-orang mulai kembali ke daerah penangkapan ikan tradisional mereka setelah banyak yang sebelumnya pergi. Ini membawa harapan untuk masa depan," ujar Alimbetova, dilansir dari Anadolu Ajansi.

Penanaman pohon saxaul di dasar danau yang mengering juga dilakukan untuk menstabilkan tanah guna mengurangi badai debu beracun yang membahayakan kesehatan penduduk sekitar. Alimbetova menekankan pentingnya pengembangan sektor perikanan untuk mencegah urbanisasi paksa.

"Bagi kami, sebagai penduduk wilayah ini, hal terpenting adalah pengembangan perikanan dan pengurangan pengangguran, sehingga masyarakat dapat terus tinggal di daerah asal mereka," tutur Alimbetova.

Sementara itu, para pemimpin negara Asia Tengah berkumpul di Astana pekan lalu guna merumuskan pengelolaan air bersama. Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, memperingatkan bahwa risiko kerusakan lingkungan bergerak lebih cepat daripada langkah mitigasi yang ada.

"Konsumsi air terus meningkat. Lebih dari 80% dari seluruh sumber daya air digunakan di bidang pertanian, sementara kehilangan air dalam sistem irigasi masih sangat tinggi. Dalam kondisi seperti ini, diperlukan solusi yang terkoordinasi dan jangka panjang," ujar Tokayev.

Dianna Kopansky dari program ekosistem air tawar UNEP memberikan catatan optimistis mengenai teknologi yang tersedia saat ini untuk mengatasi degradasi danau di seluruh dunia. Ia menegaskan perlunya kemauan politik untuk menjaga sumber daya air.

"Kabar baiknya adalah kita memiliki pengetahuan dan teknologi untuk membalikkan situasi ini. Yang benar-benar kita butuhkan adalah kemauan untuk mulai memperlakukan semua danau kita seperti sumber daya berharga sebagaimana mestinya," tutur Dianna Kopansky pada tahun 2025.

Artikel terkait

Rekomendasi