Pemkab Sigi Luncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim

Pemkab Sigi Luncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim
Foto: Ilustrasi Pemkab Sigi Luncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim.

Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, meluncurkan program adaptasi perubahan iklim untuk memperkuat ketahanan masyarakat serta kelompok rentan dan petani dalam menghadapi cuaca ekstrem serta bencana alam. Program yang berjalan hingga April 2028 tersebut menyasar lebih dari 1.500 penerima manfaat di enam desa, sebagaimana dilansir dari Lestari.

Enam desa yang menjadi sasaran proyek tersebut meliputi Desa Bangga, Pandere, Pakuli Utara, Sambo, Simoro, dan Wisolo. Program ini berfokus pada tiga pilar utama, yakni penguatan kebijakan daerah, penerapan pendekatan Water-Energy-Food (WEF) Nexus untuk ketahanan air, energi, dan pangan, serta pembentukan pusat pembelajaran di tingkat kabupaten.

Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae menyatakan bahwa program ini menjadi percontohan bagi keterlibatan berbagai pihak dalam menyelesaikan masalah di tingkat tapak.

"Ini sekaligus menjadi bukti nyata kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan mitra nasional maupun internasional dapat menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat di tingkat tapak," ujar Mohamad Rizal Intjenae, Bupati Sigi.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup turut memberikan dukungan terhadap inisiatif lokal ini agar berjalan sesuai kebutuhan riil di lapangan.

"Program di Sigi ini adalah contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi yang konkret dan terukur," kata Franky Zamzani, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup.

Pihak Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola menilai program ini menjadi bukti bahwa penyaluran dana internasional dapat berjalan tepat sasaran.

"Program Sigi ini membuktikan bahwa pendanaan iklim internasional dapat benar-benar menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan, dengan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Willy Wicaksono, Program Manager Environment and Sustainable Governance Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola.

Implementasi program ini juga diharapkan mampu mengintegrasikan berbagai sektor pemenuhan kebutuhan dasar tanpa saling merugikan.

"Pendekatan WEF Nexus di Sigi adalah langkah konkret untuk memastikan ketahanan air, energi, dan pangan berjalan beriringan, bukan saling mengorbankan," ujar Aria Nagasastra, Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia.

Pelaksanaan program ini diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten Sigi dan Koaksi Indonesia selaku pemimpin Konsorsium KOLABORASI. Konsorsium ini beranggotakan Koaksi Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Water Stewardship Indonesia, dan Earth Innovation Institute.

Langkah mitigasi ini diambil karena Kabupaten Sigi kerap mengalami dampak nyata perubahan iklim seperti banjir bandang, tanah longsor, dan ketidakpastian cuaca.

"Cuaca sekarang sudah tidak bisa diprediksi. Hujan, lalu tiba-tiba panas. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan para petani," kata Afif Lamakarate, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi.

Melalui kerja sama ini, Pemerintah Kabupaten Sigi menargetkan terbangunnya fondasi kolaborasi jangka panjang untuk mewujudkan wilayah yang lebih tangguh terhadap dampak perubahan iklim.

Artikel terkait

Rekomendasi