Pemerintah Ingatkan Potensi Pantura Jawa Tenggelam Tahun 2050

Pemerintah Ingatkan Potensi Pantura Jawa Tenggelam Tahun 2050
Foto: Ilustrasi Pemerintah Ingatkan Potensi Pantura Jawa Tenggelam Tahun 2050.

Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa menghadapi ancaman serius berupa banjir rob permanen yang diprediksi terjadi pada tahun 2050. Risiko ini muncul jika proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) tidak segera diintervensi secara besar-besaran oleh pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menjelaskan bahwa wilayah pesisir Jawa kini sedang ditekan oleh fenomena ganda. Kondisi tersebut meliputi penurunan permukaan tanah yang terjadi bersamaan dengan kenaikan permukaan air laut, seperti dikutip dari Ekonomi.

Data paparan menunjukkan bahwa laju penurunan permukaan tanah atau land subsidence saat ini mencapai angka 1 cm hingga 20 cm setiap tahunnya. Situasi paling mengkhawatirkan dilaporkan terjadi di wilayah Jakarta dan Semarang.

Pada saat yang sama, pemanasan global memicu kenaikan air laut yang kian masif dengan catatan antara 0,8 hingga 1,2 cm per tahun. Kombinasi kedua faktor ini mempercepat risiko tenggelamnya wilayah produktif di sepanjang utara Jawa.

"Bisa dilihat proyeksi penggenangan air laut hingga 2050 jika tanpa intervensi, ini bisa buruk sekali. Ini berpotensi pada terjadinya bencana yang lebih buruk dan fatal," ujar AHY dalam agenda Kick-off Meeting Infrastruktur Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

AHY menekankan bahwa ancaman banjir rob permanen ini berisiko merusak aset properti serta pemukiman warga. Jika tidak ada intervensi yang tepat sasaran, dampak sosial dan ekonomi akibat hilangnya kawasan produktif tersebut sulit untuk dihindari.

Pemerintah menilai pembangunan tanggul laut menjadi solusi krusial untuk membendung laju intrusi air laut yang semakin progresif. Langkah konkret sangat diperlukan agar risiko bencana ini tidak dibiarkan merusak tatanan ekonomi nasional.

"Gelombang pasang yang ekstrim kemudian juga ternyata bukan hanya kita menghadapi kelebihan air dalam bentuk banjir tadi tapi juga keangkaan dan krisis air. Ini juga harus kita tangani secara serius," pungkasnya.

Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) memperkirakan proyek Giant Sea Wall akan membutuhkan dana investasi yang sangat besar. Total biaya yang diproyeksikan mencapai US$100 miliar atau sekitar Rp1.681 triliun dengan asumsi kurs Rp16.815 per US$.

Kepala BOPPJ, Didit Herdiawan Ashaf, memaparkan bahwa tanggul laut raksasa ini direncanakan membentang sepanjang 535 kilometer. Pembangunan akan dilakukan bertahap mulai dari wilayah Banten di sisi barat, melintasi Jawa Barat, hingga berakhir di Gresik, Jawa Timur.

ÔÇ£Secara keseluruhan sudah ada hitungannya sekitar US$80 miliar sampai US$100,ÔÇØ ujar Kepala BOPPJ dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Pemerintah akan memprioritaskan pengerjaan pada titik-titik yang mengalami dampak paling parah. Wilayah fokus utama mencakup Jakarta serta sejumlah kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Kendal, dan Demak.

Saat ini, proyek Giant Sea Wall masih berada dalam tahap penelitian mendalam serta mitigasi lanjutan. Proses ini dilakukan untuk memastikan teknis kegiatan di lapangan sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada.

Artikel terkait

Rekomendasi