Pemerintah Indonesia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional dan keselamatan kereta api menyusul insiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin (27/4) malam. Langkah ini diambil guna membenahi standar keamanan transportasi rel secara nasional, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa pembenahan kualitas pada sekitar 1.800 titik perlintasan sebidang menjadi salah satu fokus utama dalam agenda evaluasi tersebut.
"Karena memang kita menyadari tadi ada kurang lebih 1.800 perlintasan yang mesti kita improve kualitasnya," ujar Dony Oskaria, Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN.
Dony juga menyampaikan permohonan maaf atas musibah yang terjadi dan menegaskan komitmen pemerintah untuk segera melakukan peninjauan mendalam pada seluruh aspek keamanan perjalanan kereta.
"Tetapi malang ya, tidak bisa dihindari, sekali lagi kita mohon maaf bahwa Ini akan segera kita lakukan evaluasi menyeluruh baik itu terhadap operasional daripada kereta api kita dan terutama sekalian berkaitan dengan safety," sambung Dony Oskaria, Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN.
Presiden Prabowo Subianto telah memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ini dengan menyiapkan tambahan anggaran sebesar Rp 4 triliun yang akan dialokasikan untuk perbaikan perlintasan sebidang di berbagai wilayah.
"Tadi Pak Presiden sudah menyampaikan akan ada tambahan Rp 4 triliun. Itu nanti akan dikombinasikan dengan budget kereta api dan BUMN juga akan berpartisipasi di dalam komitmen safety bagi seluruh pengguna jalan, baik itu dalam kereta api maupun pengguna jalan yang melewati perlintasan," kata Dony Oskaria, Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN.
Selain fokus pada perbaikan infrastruktur, otoritas terkait saat ini memprioritaskan penanganan medis bagi para korban serta memastikan penyaluran santunan melalui Jasa Raharja dan PT KAI.
"Saya sudah minta KAI untuk memberikan kompensasi dan sebagainya. Ini sebagai bentuk kedukaan kita," tutur Dony Oskaria, Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan kronologi kejadian yang bermula saat KRL relasi Bekasi-Cikarang menabrak mobil di perlintasan sebidang JPL 85. Insiden ini memicu keterlambatan jadwal hingga KA Argo Bromo Anggrek terlibat benturan dengan rangkaian KRL lain yang tengah berhenti di peron.
Guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan, Kementerian Perhubungan memberikan dukungan penuh kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menjalankan investigasi secara mandiri.
"Kami juga memberikan kesempatan kepada KNKT untuk melakukan investigasi secara objektif," kata Dudy Purwagandhi, Menteri Perhubungan.