Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) memastikan langkah pemantauan secara terus-menerus terhadap dampak konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sedang menghadapi tekanan global, sebagaimana dilansir dari Investortrust.
Pihak Kementerian Keuangan menyatakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah saat ini masih terhitung relatif moderat. Kondisi tersebut terjadi meskipun sentimen risk-off global sedang memicu adanya arus modal keluar dari dalam negeri.
Direktur Strategi Stabilitas Ekonomi Kementerian Keuangan Noor Faisal Achmad menjelaskan bahwa fundamental ekonomi domestik Indonesia saat ini tetap berada dalam kondisi yang solid, sehingga efek dari gejolak eksternal diprediksi berjalan terbatas.
"Fundamental ekonomi Indonesia sejauh ini masih memberikan optimisme bagi kami. Dampak akan terbatas. Mesin pertumbuhan domestik masih bekerja dengan baik," ujarnya.
Pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan rasio utang sekaligus defisit fiskal agar tetap berada di bawah angka 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Langkah ini diambil untuk terus menjaga tingkat kepercayaan di pasar keuangan.
Selain kebijakan fiskal tersebut, pemerintah menempuh reformasi struktural melalui debottlenecking demi meningkatkan daya tarik investasi asing. Strategi penyesuaian berkala juga telah disiapkan oleh otoritas terkait.
"Otoritas pasti akan memantau berkoordinasi, jadi kita tidak reaktif. Kita akan mengukur dan strategi sudah ada. Nanti, kita sesuaikan secara gradual," kata Faisal.
Sementara itu, pergeseran dana investasi ke aset aman atau safe haven dinilai menjadi pemicu utama munculnya tekanan terhadap berbagai mata uang global. Investor memprioritaskan dolar AS karena faktor likuiditasnya yang besar di pasar internasional.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea memaparkan bahwa dinamika ketegangan di Teluk Persia ikut memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan Indeks Dolar AS (DXY). Penguatan dolar kembali terjadi seiring memanasnya hubungan AS dan Iran.
Kendati demikian, kenaikan imbal hasil US Treasury dinilai membuka peluang bagi masuknya arus modal yang dapat mempertebal ketersediaan pasokan dolar AS di pasar domestik.
"Instead of mereka berbalik keluar akan menjadi potensi demand, mungkin attractiveness dari yield rupiah kelihatannya perlu secara gradual kita lakukan adjustment secara terukur," ujarnya.
Koordinasi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia akan terus diperkuat sebagai langkah mutakhir memastikan ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tingginya volatilitas global.