Pembatalan Penerbangan China ke Jepang Capai 49 Persen pada Maret 2026

Pembatalan Penerbangan China ke Jepang Capai 49 Persen pada Maret 2026
Foto: Ilustrasi Pembatalan Penerbangan China ke Jepang Capai 49 Persen pada Maret 2026.

Arus lalu lintas udara antara China dan Jepang mengalami penurunan drastis dengan tingkat pembatalan penerbangan mencapai 49,6 persen sepanjang Maret 2026. Penurunan signifikan ini berdampak besar pada sektor pariwisata kedua negara, terutama saat memasuki musim mekarnya bunga sakura yang biasanya menjadi periode puncak perjalanan.

Data dari penyedia data penerbangan sipil China, Flight Master, menunjukkan sebanyak 2.691 penerbangan antar-wilayah tersebut dibatalkan dalam satu bulan. Dilansir dari Detik Travel melalui laporan Asia News pada Kamis (23/4/2026), angka pembatalan ini mengalami kenaikan 1,1 poin persentase jika dibandingkan dengan data pada Februari sebelumnya.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa seluruh rute terjadwal pada 53 jalur penerbangan China-Jepang tidak beroperasi sama sekali. Beberapa rute populer yang terdampak meliputi layanan dari Bandara Internasional Beijing Daxing menuju Bandara Internasional Kansai di Osaka, serta rute dari Bandara Internasional Shanghai Pudong menuju Sapporo.

Kondisi serupa terjadi pada rute dari kota-kota di wilayah timur laut China seperti Shenyang ke Osaka dan Dalian ke Fukuoka yang mencatat tingkat pembatalan hingga 100 persen. Penurunan aktivitas penerbangan ini dilaporkan terus berlanjut hingga April 2026 dengan sisa layanan hanya terpusat di kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou.

Berdasarkan data Organisasi Pariwisata Nasional Jepang, jumlah pengunjung dari China daratan turun 55,9 persen menjadi 291.600 orang pada Maret. Lemahnya permintaan ini membuat faktor muatan penumpang turun ke angka 40 hingga 48 persen, yang berada di bawah ambang batas impas industri sebesar 70 persen.

Situasi ini memicu maskapai besar seperti Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines untuk memperpanjang kebijakan fleksibilitas tiket hingga 24 Oktober 2026. Penurunan permintaan perjalanan ini disinyalir terjadi setelah munculnya pernyataan dari Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan yang memengaruhi sentimen wisatawan China daratan.

Artikel terkait

Rekomendasi