Proyek pembangunan RS Adhyaksa Bali yang berlokasi di Desa Pekutatan, Kabupaten Jembrana, terus menunjukkan perkembangan signifikan. Fasilitas medis ini dirancang dengan menggabungkan teknologi modern dan sentuhan arsitektur khas lokal.
Dikutip dari Kompas, PT Hutama Karya (Persero) selaku pengembang menerapkan desain Neo Vernakular dalam proyek ini. Langkah tersebut bertujuan menjaga identitas budaya Bali di tengah fasilitas kesehatan berstandar mutakhir.
Rumah sakit dengan klasifikasi tipe C ini berdiri di atas lahan seluas 16.528,2 meter persegi. Kapasitas yang disediakan mencapai 100 tempat tidur untuk melayani kebutuhan medis masyarakat di wilayah tersebut.
Struktur utama RS Adhyaksa Bali terdiri dari empat lantai, area atap, serta fasilitas semi-basement. Gedung ini diproyeksikan menjadi pusat layanan kesehatan komprehensif bagi warga Bali bagian barat.
Layanan yang tersedia nantinya mencakup Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat jalan, rawat inap, hingga laboratorium. Selain itu, terdapat fasilitas radiologi, farmasi, dan pendukung operasional lainnya untuk menjamin kualitas pelayanan.
Hamdani, Plt Executive Vice President Sekretaris Hutama Karya, menegaskan komitmen perusahaan dalam menghadirkan infrastruktur yang andal. Ia menyebut pembangunan ini sebagai upaya pemerataan layanan kesehatan nasional.
"Kami memastikan seluruh tahapan pekerjaan dilaksanakan sesuai standar mutu serta mengedepankan penerapan aspek Quality, Health, Safety, Security, and Environment (QHSSE) secara konsisten agar proyek dapat berjalan dengan aman, berkualitas, dan sesuai jadwal," kata Hamdani, Selasa (12/5/2026).
Saat ini, tim di lapangan fokus pada penyelesaian struktur awal bangunan. Pekerjaan konstruksi yang sedang berjalan meliputi pemasangan borepile serta dimulainya tahapan pilecap dan tie beam.
Penerapan Teknologi dan Konsep Desain
Konsep Neo Vernakular diwujudkan melalui penggunaan elemen fasad yang kental dengan nuansa lokal Bali. Pemilihan material alami menjadi kunci untuk menciptakan atmosfer yang menyatu dengan lingkungan sekitar.
Penataan ruang juga dilakukan secara terstruktur dengan pembagian zona publik, semi publik, privat, dan servis. Hutama Karya menangani proyek ini secara menyeluruh, mulai dari struktur, lanskap, hingga sistem utilitas kawasan.
Demi menjaga presisi dan kualitas, pengembang memanfaatkan teknologi Building Information Modeling (BIM). Sistem Common Data Environment (CDE) juga diterapkan untuk mengintegrasikan seluruh data proyek dan koordinasi pekerjaan secara real-time.
Keberadaan proyek ini diharapkan mampu memberikan stimulus ekonomi bagi warga di sekitar lokasi pembangunan. Hal ini dilakukan melalui penyerapan tenaga kerja lokal serta kolaborasi aktif dengan pelaku UMKM yang mendukung kebutuhan proyek.