Pelemahan Rupiah Tekan Sektor Farmasi dan Ritel di Pasar Saham

Pelemahan Rupiah Tekan Sektor Farmasi dan Ritel di Pasar Saham
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Tekan Sektor Farmasi dan Ritel di Pasar Saham.

Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dollar Amerika Serikat diprediksi menekan kinerja emiten di pasar saham Indonesia, terutama sektor yang bergantung pada impor bahan baku dan utang valuta asing. Kurs rupiah pada Kamis (7/5/2026) pagi sempat bergerak pada level Rp 17.325 per dollar AS setelah sebelumnya anjlok ke posisi Rp 17.400.

Dilansir dari Money, kondisi ini menciptakan tekanan besar bagi perusahaan dengan pengeluaran berbasis dollar AS yang tinggi. Sebaliknya, pelemahan mata uang Garuda ini menjadi keuntungan bagi emiten berbasis ekspor karena pendapatan mereka menggunakan mata uang asing sementara biaya operasional tetap dalam rupiah.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar ini memicu kenaikan biaya produksi bagi perusahaan dengan eksposur impor yang signifikan. Sektor farmasi disebut sebagai kelompok yang paling terancam karena mayoritas bahan baku obat nasional masih didatangkan dari luar negeri.

ÔÇ£Ini kan bisa menciptakan cost push ya, kan cost push. Kalau sektor atau emiten yang paling beresiko farmasi pastinya. Karena exposure import-nya tinggi ya kan, sebagian besar bahan baku obat kan masih diimpor bisa 90 persen loh,ÔÇØ ujar Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Nafan menilai situasi ini menempatkan emiten farmasi pada posisi sulit terkait kebijakan harga produk. Penguatan dollar AS berisiko menggerus margin laba bersih jika perusahaan tidak menyesuaikan harga jual kepada konsumen, namun kenaikan harga juga berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.

ÔÇ£Jadi kenaikan dollar AS akan bisa menggerus margin laba, apalagi apabila emiten farmasi tidak menaikan harga jual ke konsumen seperti itulah di dilemanya,ÔÇØ paparnya Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Selain farmasi, sektor ritel dan elektronik juga menghadapi tantangan serupa karena harga produk mereka sangat sensitif terhadap kurs global. Penurunan volume penjualan berisiko terjadi apabila harga barang naik di saat daya beli masyarakat sedang tertekan.

ÔÇ£Ada juga yang exposure import tinggi, ada juga sektor retail, sektor elektronik juga bisa ya kan karena mereka sangat sensitif karena produk mereka kan yang dijual berbasis harga global atau import seperti itu ya,ÔÇØ tukas Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Sektor telekomunikasi, infrastruktur, dan aviasi turut terdampak akibat kebutuhan belanja modal serta biaya operasional dalam dollar AS. Namun, Nafan mencatat bahwa emiten energi seperti batu bara, logam, dan minyak sawit mentah justru berpotensi menikmati sentimen positif.

ÔÇ£Nah, yang diuntungkan tentu eksportir karena pendapatan mereka dalam bentuk dollar AS. Sementara biaya operasionalnya dalam rupiah,ÔÇØ lanjut Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Di sisi lain, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menyoroti risiko arus keluar dana asing dari pasar keuangan. Depresiasi rupiah menuju level Rp 17.500 per dollar AS dinilai menjadi katalis utama pelepasan aset oleh investor global, khususnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

ÔÇ£Risiko depresiasi rupiah menuju level Rp 17.500 tetap menjadi katalis utama outflow asing, sehingga emiten dengan komposisi kepemilikan asing yang besar, khususnya di sektor perbankan, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap volatilitas pasar saat ini,ÔÇØ kata Azharys Hardian, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).

Artikel terkait

Rekomendasi