Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang terus mengalami tren pelemahan hingga menyentuh level Rp 17.295 pada Jumat (24/4/2026) berpotensi menggerus daya beli masyarakat Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga barang impor dan peningkatan angka inflasi nasional akibat kurs yang tidak stabil.
Data nilai tukar menunjukkan rupiah spot ditutup pada level Rp 17.286 per dollar AS pada Kamis (23/4/2026), atau melemah 0,61 persen dari hari sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Money. Tekanan ini diperparah oleh tingginya harga minyak mentah dunia serta ketergantungan industri manufaktur domestik terhadap bahan baku luar negeri.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa penurunan nilai tukar ini akan berdampak langsung pada kepercayaan konsumen. Sektor ekonomi diprediksi melambat seiring dengan meningkatnya biaya produksi dan harga komoditas pangan impor seperti gandum dan kedelai.
"Kepercayaan konsumen menurun dan aktifitas ekonomi akan melamban," kata Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.
Lukman memproyeksikan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut karena minimnya data ekonomi penting dan pengaruh konflik di Timur Tengah. Ia memperkirakan mata uang Garuda berisiko melemah lebih dalam dalam waktu dekat.
"Tanpa adanya perubahan signifikan dari sentimen domestik maupun harga minyak yang masih tinggi, rupiah bisa mencapai Rp 18.000 per dolar AS pada semester pertama," tutur Lukman Leong.
Sebagai langkah mitigasi risiko, Lukman menyarankan otoritas terkait untuk melakukan intervensi melalui kebijakan moneter dan fiskal yang ketat. Ia juga memberikan pandangan mengenai instrumen investasi yang lebih aman bagi para pelaku pasar saat ini.
"Untuk mata uang utama, mata uang CHF Swiss dan dolar Australia (AUD) masih menarik," ujar Lukman Leong.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai dampak pelemahan kurs belum sepenuhnya menghantam masyarakat secara instan. Indikator ekonomi seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 yang berada di level 122,9 menunjukkan daya beli masih bertahan untuk sementara waktu.
"Dampaknya bagi masyarakat, belum berarti krisis langsung hari ini, tetapi tekanan ke depan jelas ada," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Josua memperingatkan bahwa transmisi kenaikan harga akan terjadi secara bertahap melalui sektor transportasi dan logistik. Kenaikan biaya operasional ini pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen akhir dalam bentuk harga barang dan jasa yang lebih mahal.
"Jadi, efeknya bukan semata kurs di pasar uang, tetapi biaya hidup yang naik pelan-pelan," kata Josua Pardede.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata berpendapat bahwa faktor domestik memegang peranan besar dalam pelemahan ini mengingat indeks dollar AS relatif stabil. Ia menyoroti ketidakpastian pasokan energi dan beban subsidi yang menekan anggaran pendapatan dan belanja negara.
"Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.
Liza juga mengkritisi efektivitas suku bunga acuan saat ini yang dinilai belum mampu menstabilkan pergerakan rupiah. Ia menekankan pentingnya ketersediaan likuiditas dollar AS di pasar domestik untuk meredam fluktuasi yang terjadi.
"Berapa harga dan kapan minyak Rusia tiba dan bisa amankan supply BBM di Indonesia, masih belum jelas," imbuh Liza Camelia Suryanata.
Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menambahkan bahwa permintaan valuta asing yang tinggi untuk kebutuhan jangka pendek dan pembayaran dividen menjadi faktor penekan tambahan. Kondisi neraca perdagangan yang tertekan oleh impor energi membuat surplus perdagangan nasional kian menyempit.
"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue," ucap Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.
Myrdal menyebutkan bahwa derasnya arus modal keluar atau hot money flow membuat nilai tukar rupiah saat ini berada pada posisi yang sulit. Fenomena ini menyebabkan penilaian terhadap nilai wajar rupiah menjadi tidak lagi relevan dalam jangka pendek.
"Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot money-nya itu masih hot flow dan trade surplusnya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue," tutup Myrdal Gunarto.