Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung resmi melantik Dudi Gardesi Asikin sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta di Balai Kota pada Rabu (15/4/2026). Pelantikan ini dilakukan guna mengisi posisi strategis dalam pengelolaan lingkungan serta menghindari kekosongan kepemimpinan di tingkat pejabat tinggi pratama.
Dilansir dari Megapolitan, Dudi yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala Dinas kini menggantikan posisi Asep Kuswanto. Sementara itu, Asep mendapatkan penugasan baru sebagai Asisten Deputi Gubernur bidang tata ruang dalam rotasi 11 pejabat tersebut.
ÔÇ£Ada juga untuk Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Wakil Kepala Dinas yaitu Pak Dudi Gardesi naik menjadi Kepala Dinas,ÔÇØ ujar Pramono, Gubernur DKI Jakarta.
Proses seleksi dan pengisian jabatan ini diklaim telah melewati prosedur yang berlaku. Pramono menegaskan bahwa kebijakan tersebut didasarkan pada manajemen talenta Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk memastikan kinerja pemerintahan tetap optimal.
ÔÇ£Mudah-mudahan pilihan ini adalah pilihan yang terbaik bagi Jakarta,ÔÇØ kata Pramono, Gubernur DKI Jakarta.
Tugas berat segera menanti Dudi di kursi kepala dinas, terutama mengenai kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Berdasarkan data operasional, lokasi tersebut menerima kiriman sampah penduduk Jakarta mencapai lebih dari 7.000 ton setiap harinya.
Kondisi Bantargebang saat ini berada di titik kritis dengan ketinggian gundukan sampah yang sudah melewati angka 50 meter. Mengingat insiden longsor yang sempat terjadi pada Maret 2026, masa operasional tempat pembuangan akhir ini diprediksi hanya bertahan hingga akhir tahun 2026.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya telah mengupayakan pengurangan beban sampah melalui fasilitas refuse derived fuel (RDF). RDF Plant Rorotan mulai beroperasi dengan target kapasitas bertahap dari 300 ton hingga mencapai 1.000 ton per hari.
Meskipun terdapat bantuan dari fasilitas RDF Bantargebang dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), total pengolahan baru berkisar antara 6.700 sampai 7.150 ton per hari. Hal ini menyisakan beban sekitar 3.500 ton sampah yang masih harus ditimbun di Bantargebang secara konvensional.