Sejumlah pengusaha sektor pariwisata di Thailand menyatakan keberatan atas rencana pemerintah setempat yang akan menaikkan pajak serta berbagai biaya perjalanan internasional mulai Kamis, 14 Mei 2026. Penambahan pungutan ini dikhawatirkan bakal membuat biaya liburan semakin mahal dan menekan daya saing negara tersebut di tingkat regional.
Kenaikan signifikan direncanakan oleh Airports of Thailand (AoT) yang akan mengerek tarif layanan penumpang internasional di enam bandara kelolaan. Dilansir dari Detik Travel, biaya tersebut naik dari 730 baht menjadi 1.120 baht, atau melonjak dari kisaran Rp 394 ribu menjadi Rp 604 ribu per orang mulai 20 Juni 2026.
Presiden Asosiasi Hotel Thailand, Thienprasit Chaiyapatranun, menyatakan bahwa pada dasarnya pelaku usaha tidak sepenuhnya menolak pungutan tambahan tersebut. Namun, para pengusaha mendesak adanya transparansi dari pemerintah mengenai pemanfaatan dana untuk pengembangan sektor pariwisata.
"Baik pajak keberangkatan maupun biaya masuk wisatawan asing belum memiliki rencana penggunaan dana yang jelas," kata Thienprasit.
Thienprasit juga memberikan catatan kritis terhadap AoT yang belum memaparkan alasan mendetail terkait kebijakan kenaikan layanan bandara. Ia menilai informasi yang diberikan kepada publik selama ini masih bersifat terlalu umum dan kurang substansial.
Penolakan ini didasari pada posisi keuangan AoT yang sebenarnya masih mencatat profit besar meski tanpa kenaikan tarif. Pada tahun fiskal 2025, perusahaan membukukan laba 18 miliar baht, sementara kuartal pertama tahun fiskal 2026 telah mencatat keuntungan 4,6 miliar baht.
Sekretaris Jenderal Kehormatan Asosiasi Agen Perjalanan Thailand, Adith Chairattananon, memprediksi kecil kemungkinan adanya penundaan kenaikan biaya layanan meskipun diskusi telah dilakukan. Ia menekankan agar otoritas bandara fokus pada peningkatan daya saing dibandingkan hanya menaikkan tarif.
"Bandara Suvarnabhumi seharusnya menargetkan masuk 10 besar dunia dalam tiga sampai lima tahun," ujar Adith.
Kebutuhan target yang lebih ambisius ini merujuk pada peringkat bandara dunia versi Skytrax yang menempatkan Suvarnabhumi pada posisi ke-36. Peringkat tersebut tertinggal jauh di bawah Bandara Changi Singapura yang memuncaki daftar serta bandara utama lainnya di Hong Kong dan Incheon.