Kemendikdasmen Gelar Tes Kemampuan Akademik SMP 2026 Selama Sepuluh Hari

Kemendikdasmen Gelar Tes Kemampuan Akademik SMP 2026 Selama Sepuluh Hari
Foto: Ilustrasi Kemendikdasmen Gelar Tes Kemampuan Akademik SMP 2026 Selama Sepuluh Hari.

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SMP sederajat resmi dimulai sejak Senin (6/4/2026) hingga 16 April mendatang sebagaimana dilansir dari Edukasi. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memantau langsung proses ujian ini di SMPN 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten guna memastikan kelancaran distribusi soal.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa pengaturan waktu ujian dibagi menjadi beberapa kelompok waktu pengerjaan. Hal ini diterapkan mengingat jumlah peserta didik yang berpartisipasi dalam agenda nasional ini sangat besar di seluruh wilayah Indonesia.

"Nanti akan ada beberapa shift karena memang pelaksanaannya melibatkan banyak murid," kata Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

Pemerintah menetapkan jadwal ujian harian yang mencakup materi Matematika, Numerasi, Bahasa Indonesia, serta survei karakter dan lingkungan belajar. Berikut adalah rincian jadwal sesi TKA 2026 untuk wilayah Waktu Indonesia Barat (WIB):

Jadwal Sesi TKA SMP 2026 (WIB)
SesiWaktu Pelaksanaan
Sesi 107.00 ÔÇô 08.45 WIB
Sesi 209.15 ÔÇô 11.00 WIB
Sesi 311.30 ÔÇô 13.15 WIB
Sesi 413.45 ÔÇô 15.30 WIB

Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen Toni Toharudin menyebutkan tingkat partisipasi siswa pada tahun ini sangat tinggi. Berdasarkan data sementara, jumlah peserta yang hadir telah melampaui target awal yang ditetapkan oleh pemerintah.

"Pokoknya 98 persen dari populasi," ujar Toni, Kepala BSKAP Kemendikdasmen.

Toni menambahkan bahwa pihaknya masih melakukan pendataan terhadap sisa dua persen siswa yang belum mengikuti ujian. Sejauh ini kategori sekolah para siswa tersebut masih dalam proses identifikasi lebih lanjut oleh tim kementerian.

"Belum kita deteksi sekolah negeri atau swasta," jelas Toni, Kepala BSKAP Kemendikdasmen.

Terkait durasi pengerjaan, Toni menegaskan bahwa waktu 75 menit yang dialokasikan untuk mata pelajaran Matematika dan Numerasi sudah diperhitungkan secara matang. Keputusan ini diambil berdasarkan analisis kebijakan pendidikan yang berlaku tahun ini.

"Waktu juga kami sudah perhitungan dengan baik, 75 menit pada hari kemarin untuk mengerjakan matematika dan numerasi," kata Toni, Kepala BSKAP Kemendikdasmen.

Ia juga menanggapi adanya keluhan siswa mengenai tingkat kesulitan soal yang dinilai berbeda dengan materi simulasi. Menurutnya, desain soal TKA bertujuan untuk mengevaluasi kedalaman pola pikir kritis para peserta didik di Indonesia.

"Saya kira soal TKA ini dibuat tidak dibuat untuk menjebak, tetapi kita untuk mengungkap bagaimana kemampuan berpikir siswa ini yang lebih mendalam," kata Toni, Kepala BSKAP Kemendikdasmen.

Pihak kementerian mengklaim telah melalui berbagai proses progres akademis dan pengujian sebelum naskah soal didistribusikan. Hal tersebut dilakukan agar seluruh instrumen penilaian memenuhi standar pengukuran kemampuan yang objektif.

"Jadi secara teori kami sudah melalui proses progres yang akademis, menguji soal itu dan lain-lain. Dan pada akhirnya memang selalu terjadi keluhan seperti itu. Tetapi pada prinsipnya kami ingin mengukur yang tadi," ujar Toni, Kepala BSKAP Kemendikdasmen.

Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati memberikan rincian bahwa materi ujian terdiri atas komposisi pengetahuan, pengaplikasian, dan penalaran. Formula waktu yang diberikan merujuk pada hasil uji coba penyelesaian soal pada setiap kategori tersebut.

"Nah dari kombinasi tersebut, kami menghitung berapa biasanya ketika kami menguji coba soal untuk menyelesaikan soal-soal knowing waktunya, berapa untuk yang applying, berapa untuk yang reasoning, dan itulah yang pernah menjadi formula 75 menit," ujar Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen.

Rahmawati menekankan bahwa pemberian waktu yang terlalu longgar justru berisiko memicu kecurangan di ruang ujian. Kementerian berupaya meminimalisir peluang kerja sama antar siswa maupun penggunaan perangkat dokumentasi ilegal selama tes berlangsung.

"Jangan-jangan nanti mau dipakai buat kesempatan moto-moto, kesempatan untuk bertanya, kerjasama, itu juga salah satu hal yang kami hindari," tutur Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen.

Berdasarkan data pemantauan digital, banyak peserta didik yang tercatat mampu menyelesaikan soal dalam waktu lebih cepat dari batas maksimal. Pihak kementerian akan terus memantau log file untuk mengevaluasi efektivitas durasi pengerjaan secara berkala.

"Dan kami akan selalu menelaah log file kami untuk mengetahui secara ideal sebenarnya berapa waktu yang dibutuhkan oleh murid-murid untuk menyelesaikan semuanya. Meskipun semuanya sudah kami lakukan melalui data uji coba," jelas Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen.

Mengenai perbedaan konteks masalah dalam soal, Rahmawati menjelaskan bahwa TKA menggunakan perbandingan masalah dunia nyata yang lebih luas. Hal ini yang menyebabkan beberapa siswa merasa soal ujian tidak serupa dengan materi simulasi yang bersifat mendasar.

"Kalau di simulasi mungkin yang kita tanyakan adalah kombinasi harga dari X dan Y, dimana X dan Y itu adalah sebuah barang, misalnya alat tulis," kata Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen.

Perubahan nuansa soal tersebut mencakup perbandingan besaran wilayah hingga konteks global lainnya untuk menguji konsep matematika siswa. Ia mengakui perlunya peningkatan pembiasaan konteks masalah dunia nyata dalam proses pembelajaran di sekolah.

"Tetapi ketika di TKA, kami menggunakan masalah yang nuansanya sudah bukan tentang harga barang alat tulis lagi, tapi tentang misalnya bagaimana perbandingan antara besaran suatu wilayah A dengan wilayah B," lanjut Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen.

Siswa SMPN 2 Curug, Rafli L Arzaq, mengungkapkan perasaannya yang sempat merasa tegang sebelum mengikuti ujian akibat informasi di media sosial. Namun, ia memilih menjadikan tekanan tersebut sebagai motivasi untuk meningkatkan intensitas belajar mandiri.

"Grogi sama takut saya. Tapi dari semalem saya tekanin bahwa rasa takut itu harus jadi dorongan buat belajar," kata Rafli, siswa SMPN 2 Curug.

Ia menyebutkan bahwa persepsi mengenai sulitnya soal TKA banyak tersebar di lingkungan pergaulan digital. Ketakutan tersebut muncul karena adanya narasi yang menggambarkan ujian ini sangat menyeramkan bagi sebagian besar murid.

"Karena saya sih lebih ke vibes aja ya. Karena orang-orang bilang TKA wah gitu soalnya menakutkan. Jadi saya ikut takut aja gitu," ujarnya, siswa SMPN 2 Curug.

Rafli berharap hasil nilai TKA ini dapat membantunya lolos ke sekolah menengah atas tujuan melalui jalur prestasi. Ia telah mempersiapkan diri dengan mengikuti bimbingan belajar tambahan serta mengulas materi dari kelas sebelumnya.

"Buat daftar SMA saya. Ke SMA negeri gitu," ujarnya, siswa SMPN 2 Curug.

Persiapan sekolah juga difokuskan pada pengulangan materi kurikulum kelas 7 dan 8 agar siswa siap menghadapi soal standar nasional. Hal ini diakui menjadi strategi utama dalam menghadapi berbagai tipe soal yang muncul di TKA.

"Persiapan dari sekolah sih paling mengulas materi yang kelas 7 sama kelas 8 gitu," pungkas Rafli, siswa SMPN 2 Curug.

Senada dengan rekannya, Muhamah Revan menilai bahwa tingkat kesulitan soal Matematika tahun ini memang berada di atas rata-rata simulasi. Meski telah mempelajari berbagai materi dari platform digital, ia tetap merasa kesulitan menghadapi panjangnya teks soal.

"Secara keseluruhan sih lumayan susah," kata Revan, siswa SMPN 2 Curug.

Ia memprediksi nilai yang diperolehnya mungkin tidak akan mencapai angka sempurna namun tetap optimis untuk hasil akhir. Revan menargetkan angka di kisaran 80 untuk tetap bisa bersaing di jalur prestasi masuk SMA.

"Kayaknya kecil (nilainya), 80 mungkin," ujarnya, siswa SMPN 2 Curug.

Siswi lain bernama Andrea turut menyoroti bagian bangun ruang yang mewajibkan hafalan rumus yang cukup banyak dalam waktu terbatas. Kendati demikian, ia menilai secara umum teknis pelaksanaan ujian di sekolahnya berjalan tanpa kendala berarti.

"Kalau menurut aku sih lumayan, susah, cuman aman-aman aja sih (pelaksanaan TKA)," tutur Andrea, siswi SMPN 2 Curug.

Andrea menutup dengan pesan agar rekan-rekan siswa lainnya tidak perlu merasa terbebani secara mental saat menghadapi ujian. Ketenangan dianggap sebagai faktor kunci agar ingatan terhadap rumus-rumus penting tidak hilang saat mengerjakan soal.

"Aman-aman aja," ucap Andrea, siswi SMPN 2 Curug.

"Kalau misalnya grogi pasti matematika apalagi bakal lupa rumus-rumusnya. Jadi santai aja," pungkas Andrea, siswi SMPN 2 Curug.

Artikel terkait

Rekomendasi