Instruksi Presiden Prabowo Subianto mengenai kewajiban belajar bahasa Prancis di setiap jenjang sekolah memicu tanggapan dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G). Organisasi guru tersebut menilai kebijakan ini berpotensi menambah beban kurikulum di tengah keterbatasan tenaga pengajar saat ini.
Satriwan Salim, selaku Koordinator Nasional P2G, menyoroti masalah klasik mengenai kurangnya jumlah guru profesional di tanah air. Ia memperkirakan kebutuhan sekitar 480 ribu guru sulit terpenuhi karena minimnya rekrutmen guru PNS dalam enam tahun terakhir.
Kekhawatiran Terkait Kesiapan Tenaga Pengajar
Ketiadaan rekrutmen guru baru yang bersifat tetap dianggap menjadi penghambat utama implementasi program bahasa asing ini. Tanpa adanya guru profesional yang kompeten di bidang bahasa Prancis, kebijakan ini dikhawatirkan tidak akan berjalan secara maksimal.
Presiden Prabowo menyampaikan kebijakan tersebut saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Emmanuel Macron di Paris. Beliau memandang penguasaan bahasa Prancis sangat penting sebagai persiapan bagi generasi muda menghadapi tantangan dunia masa depan.
Sebenarnya, kurikulum pendidikan di Indonesia sudah memberikan ruang bagi berbagai bahasa asing non-Inggris. Beberapa pilihan bahasa yang tersedia saat ini antara lain bahasa Arab, Jepang, Mandarin, Jerman, hingga Prancis itu sendiri.
Khusus pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pariwisata, penguasaan bahasa asing sudah menjadi standar kompetensi untuk mendukung kebutuhan industri. Program sertifikasi bahasa non-Inggris pun telah dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Pentingnya Penguatan Kompetensi Dasar
Iman Zanatul Haeri, Kepala Bidang Advokasi P2G, memberikan saran agar pemerintah lebih memprioritaskan pembenahan kompetensi dasar siswa. Hal ini merujuk pada capaian akademik siswa Indonesia yang dinilai masih memerlukan perhatian serius.
Rincian nilai rata-rata Tes Kompetensi Akademik (TKA) jenjang SMA tahun 2025:
- Mata pelajaran Bahasa Inggris mencatatkan nilai rata-rata sebesar 24,93.
- Mata pelajaran Matematika mencatatkan nilai rata-rata sebesar 36,10.
Data di atas menunjukkan bahwa penguasaan materi inti seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika masih tergolong rendah. Oleh karena itu, P2G menyarankan agar fokus pemerintah tidak terpecah dengan penambahan mata pelajaran wajib baru.
Usulan Menjadikan Bahasa Prancis sebagai Ekstrakurikuler
Sebagai jalan tengah, P2G mengusulkan agar bahasa Prancis atau bahasa Portugis dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Hal ini memungkinkan siswa yang memiliki minat khusus untuk tetap bisa mempelajari bahasa tersebut tanpa membebani kurikulum utama.
P2G juga merujuk pada data UNESCO yang menunjukkan bahwa Prancis belum menjadi sepuluh besar negara tujuan utama studi pelajar Indonesia. Urgensi penggunaan bahasa tersebut dalam perdagangan global dinilai masih di bawah bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional.
| Aspek Analisis | Rekomendasi P2G |
|---|---|
| Status Mata Pelajaran | Dijadikan kegiatan ekstrakurikuler atau klub bahasa. |
| Prioritas Kurikulum | Fokus pada peningkatan nilai Matematika dan Bahasa Inggris. |
| Masalah SDM | Penyelesaian kekurangan 480 ribu tenaga pengajar profesional. |
Tabel tersebut merangkum poin-poin utama yang menjadi perhatian para pendidik terkait kebijakan pendidikan bahasa asing yang baru. P2G berharap pemerintah mempertimbangkan matang-matang aspek teknis di lapangan sebelum mewajibkan kebijakan ini secara nasional.