Paus Leo XIV Desak Pelucutan Kecerdasan Buatan dalam Ensiklik Magnifica Humanitas

Paus Leo XIV Desak Pelucutan Kecerdasan Buatan dalam Ensiklik Magnifica Humanitas
Foto: Ilustrasi Paus Leo XIV Desak Pelucutan Kecerdasan Buatan dalam Ensiklik Magnifica Humanitas.

Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Leo XIV, menyampaikan seruan tegas agar kecerdasan buatan (AI) segera dilucuti guna memproteksi umat manusia dari ancaman teknologi yang kian tidak terkendali. Langkah ini diumumkan melalui pidato bersejarah saat merilis ensiklik terbaru berjudul Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung).

Seperti dikutip dari Media Indonesia, dokumen moral yang dinilai paling signifikan sejak masa jabatan satu tahunnya ini menegaskan bahwa teknologi harus dilepaskan dari kendali monopoli. Paus asal Amerika Serikat pertama dalam sejarah tersebut mendesak agar pemanfaatan AI tidak lagi sekadar berfokus pada keuntungan geopolitik atau komersial.

Paus Leo XIV menerangkan bahwa istilah melucuti bukan berarti menolak kemajuan teknologi yang ada. Konsep tersebut bertujuan mendiskreditkan anggapan bahwa kekuatan teknis otomatis memberikan hak untuk memegang kendali pemerintahan.

"Melucuti senjata berarti mencegah teknologi mendominasi kemanusiaan," tegas Paus yang juga merupakan seorang ahli matematika tersebut pada Senin (25/5/2026).

Dalam presentasi berbentuk video, Vatikan memperlihatkan cuplikan peristiwa besar seperti Revolusi Industri, Perang Dunia II, hingga runtuhnya Tembok Berlin sebagai refleksi disrupsi sejarah. Paus menarik korelasi langsung antara dampak mesin pada era Paus Leo XIII dengan efek AI terhadap sektor tenaga kerja saat ini.

Terdapat tiga poin utama yang ditekankan terkait pengembangan teknologi ke depan:

  • AI wajib bersifat ramah manusia serta terbebas dari monopoli perusahaan raksasa.
  • Algoritma dilarang menjadi penentu tunggal dalam pengambilan keputusan perang atau militer.
  • Data, algoritma, serta infrastruktur digital harus diposisikan sebagai barang publik demi kesejahteraan kolektif.

Potensi Ketegangan Politik dan Etika Militer

Kebijakan berani dari Paus yang kini berusia 70 tahun tersebut diproyeksikan bakal memicu ketegangan dengan Presiden AS Donald Trump. Hal ini dipicu oleh arah kebijakan pemerintahan Trump yang cenderung mendukung deregulasi AI demi menjaga keunggulan kompetitif terhadap Tiongkok.

Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan tanggapan yang berhati-hati mengenai implikasi pernyataan Vatikan terhadap umat Katolik global. Menurutnya, pandangan dari pemimpin denominasi Kristen terbesar di dunia pasti akan memberikan dampak yang signifikan.

"Ketika pemimpin denominasi Kristen terbesar di dunia berbicara, hal itu pasti akan memberikan pengaruh. Saya yakin ada banyak wawasan di dalamnya, meski mungkin ada yang saya setujui dan ada yang tidak," ujar Vance.

Sektor militer menjadi salah satu fokus krusial yang disorot dalam ensiklik Magnifica Humanitas. Paus memberikan peringatan keras bahwa tidak ada satu pun algoritma yang dapat membuat tindakan perang menjadi dapat diterima secara moral.

Penggunaan AI dikhawatirkan membuat eskalasi konflik berjalan lebih cepat, impersonal, sekaligus mengikis pertimbangan moral manusia. Kekhawatiran tersebut kian diperkuat oleh kehadiran Mythos, sebuah alat AI dari Anthropic PBC yang memiliki kemampuan mengidentifikasi celah sistem TI dalam skala masif.

Vatikan turut mengundang salah satu pendiri Anthropic, Christopher Olah, dalam agenda presentasi tersebut. Olah menyatakan dukungannya terhadap seruan Paus dan menilai perlunya kehadiran suara moral yang tidak dapat dipengaruhi oleh insentif pasar bebas.

Paus Leo XIV menutup pesannya lewat peringatan bahwa risiko terbesar akan muncul saat teknologi mulai menentukan apa yang berharga dan apa yang bisa dibuang, yang pada akhirnya mereduksi eksistensi manusia hanya sebagai komponen efisiensi sistem.

Artikel terkait

Rekomendasi