Ahli Burung Belanda Diduga Jadi Pemicu Wabah Hantavirus MV Hondius

Ahli Burung Belanda Diduga Jadi Pemicu Wabah Hantavirus MV Hondius
Foto: Ilustrasi Ahli Burung Belanda Diduga Jadi Pemicu Wabah Hantavirus MV Hondius.

Seorang ornitolog asal Belanda bernama Leo Schilperoord diidentifikasi sebagai pasien nol yang diduga memicu wabah Andes hantavirus mematikan di kapal pesiar MV Hondius pada pelayaran April 2026. Penyelidikan internasional kini fokus pada pelacakan kontak lintas negara guna menekan penyebaran virus langka tersebut.

Dilansir dari Detik Health, Leo (70) dan istrinya, Mirjam Schilperoord (69), jatuh sakit setelah melakukan aktivitas pengamatan burung di Amerika Selatan sebelum menaiki kapal pada 1 April 2026. Otoritas kesehatan mencatat pasangan ini sempat mengunjungi Argentina, Chile, dan Uruguay selama beberapa bulan perjalanan mereka.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan Leo sebagai kasus probable, sementara infeksi istrinya telah terkonfirmasi melalui pengujian PCR. Penyelidikan awal mengarahkan dugaan paparan virus terjadi di lokasi pembuangan sampah di luar Ushuaia, Patagonia, yang merupakan habitat hewan pengerat pembawa virus.

"Kemungkinan terpapar hewan pengerat selama kegiatan pengamatan burung," tulis WHO dalam laporannya.

Tim medis mencatat Leo mulai merasakan gejala berupa demam, sakit kepala, dan gangguan pencernaan pada 6 April atau kurang dari sepekan setelah kapal berlayar. Ia kemudian meninggal dunia di atas kapal pada 11 April tanpa sempat diambil sampel medisnya karena gejala awal yang menyerupai penyakit pernapasan umum.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memberikan penjelasan mengenai kendala awal dalam mengidentifikasi penyebab kematian pria asal Haulerwijk tersebut. Tedros mengatakan kematian Leo awalnya tidak dapat dijelaskan dan tidak ada sampel yang diambil saat itu.

Kondisi kesehatan Mirjam mulai menurun setelah ia turun dari kapal di Saint Helena pada 24 April dengan keluhan serupa di saluran pencernaan. Ia dilaporkan sempat melakukan perjalanan udara menuju Afrika Selatan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

"Kondisinya kemudian memburuk dalam penerbangan ke Johannesburg, Afrika Selatan, pada tanggal 25 April," kata WHO, dikutip dari Newsweek.

Laporan tersebut merinci lebih lanjut mengenai waktu kematian sang istri yang terjadi di fasilitas medis setempat. WHO melanjutkan keterangan resminya dalam laporan tersebut.

"Ia meninggal pada tanggal 26 April di sebuah klinik di Johannesburg," sambungnya.

Berbeda dengan jenis hantavirus lainnya, varian Andes dikenal karena kemampuannya menularkan virus antarmanusia melalui kontak dekat yang berkepanjangan. Fenomena ini memicu pengawasan ketat terhadap sejumlah penumpang asal Amerika Serikat dan Eropa yang kini telah kembali ke negara masing-masing.

Artikel terkait

Rekomendasi