Kecintaan mendalam terhadap dunia unggas seringkali membawa para peneliti ke sudut-sudut bumi yang paling terpencil. Namun bagi Leo Schilperoord, dedikasi seumur hidup sebagai ahli ornitologi justru menuntunnya pada pertemuan fatal dengan ancaman mikroskopis yang tersembunyi di balik tumpukan limbah. Sosok pria berusia 70 tahun ini kini teridentifikasi sebagai 'Pasien Nol' dalam teror wabah hantavirus yang melanda sebuah kapal pesiar ekspedisi.
Leo tidak menjalani petualangan ini sendirian. Bersamanya ada sang istri, Mirjam Schilperoord yang berusia 69 tahun. Pasangan asal Haulerwijk, sebuah desa sunyi di Belanda, ini sedang menikmati perjalanan panjang selama lima bulan melintasi Amerika Selatan. Sejak mendarat di Argentina pada akhir November, keduanya telah menjelajahi Chile hingga Uruguay demi memuaskan rasa ingin tahu mereka terhadap alam liar.
Rekam jejak mereka dalam dunia sains bukanlah hal baru. Jauh pada tahun 1984, mereka telah berkontribusi pada literatur ilmiah dengan menulis studi tentang angsa kaki merah muda. Semangat ini membawa mereka ke berbagai belahan dunia, termasuk hutan-hutan Sri Lanka pada tahun 2013, di mana mereka berhasil mendokumentasikan Burung Hantu Serendib yang sangat langka.
Maut di Balik Gunung Sampah
Tragedi bermula saat pasangan ini kembali ke Argentina pada 27 Maret. Alih-alih mengunjungi destinasi wisata arus utama, mereka justru menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di luar kota Ushuaia. Di balik aroma busuk dan tumpukan limbah, tersimpan daya tarik bagi para pengamat burung: caracara leher putih atau yang dikenal sebagai caracara Darwin.
Di sinilah petaka diduga terjadi. Otoritas Argentina meyakini bahwa saat asyik mengamati burung, pasangan tersebut menghirup partikel dari kotoran tikus padi kerdil berekor panjang. Tikus-tikus ini merupakan inang dari strain Andes, varian hantavirus yang sangat ditakuti karena kemampuan uniknya yang dapat menular antarmanusia.
"Sudah menjadi hal yang umum bagi pengamat burung untuk mengunjungi TPA karena ada banyak burung di sana. Ini adalah gunung sampah yang saat ini jauh melebihi batas yang awalnya ditetapkan oleh pihak berwenang" kata Gaston Bretti, fotografer dan pemandu lokal.
Layu di Tengah Samudra
Setelah terpapar di TPA tersebut, Leo dan Mirjam melanjutkan rencana mereka dengan menaiki kapal MV Hondius pada 1 April. Di atas kapal yang membawa seratusan ilmuwan dan pengamat burung itu, kondisi kesehatan Leo mulai merosot tajam. Gejala awal seperti demam dan sakit perut dengan cepat berubah menjadi kondisi kritis. Leo mengembuskan napas terakhirnya di tengah laut, lima hari setelah gejala pertama muncul.
Kesedihan Mirjam tidak berhenti pada kehilangan suaminya. Saat berusaha membawa pulang jenazah Leo ke Belanda melalui penerbangan transit di Afrika Selatan, kesehatannya sendiri tumbang. Kru maskapai menilai kondisinya terlalu lemah untuk terbang. Mirjam pingsan di bandara Johannesburg dan meninggal dunia keesokan harinya, menutup babak tragis perjalanan panjang pasangan ilmuwan tersebut jauh dari tanah kelahiran mereka di Haulerwijk.