Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin meminta seluruh jajarannya tetap fokus bekerja meningkatkan pelayanan air bersih dan tidak bersikap reaktif terhadap kritik masyarakat. Pernyataan ini disampaikan usai rapat kerja bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta pada Selasa (21/4/2026), dilansir dari Megapolitan.
Kritik yang muncul dari warga, termasuk keluhan mengenai kemacetan akibat proyek galian pipa, dipandang sebagai hal yang wajar. Arief menegaskan bahwa masukan tersebut merupakan refleksi penting bagi perusahaan untuk terus bergerak melakukan perbaikan infrastruktur di lapangan.
"Sedikit aja macet sudah banyak yang teriak, kan gitu. Dengan kondisi ini, saya cuma minta sama tim jangan baper ya. Memang saya bilang better late than never. Lebih baik kita saat ini enggak apa-apa dihajar, dipukul, dikritisi enggak apa-apa, itu refleksi kita. Tapi tetap harus bergerak, bekerja," ucap Arief, Direktur Utama PAM Jaya.
Pihak manajemen menekankan pentingnya menjaga mentalitas kerja di tengah sorotan publik yang tajam. Menurutnya, kritik harus diposisikan sebagai alat ukur atau cermin bagi internal perusahaan guna melakukan koreksi mandiri secara berkelanjutan.
"Saya minta sama tim tetap bekerja biarkan urusan yang criticizing itu menjadikan mirroring kita untuk kita tetap harus mengoreksi diri kita," kata Arief, Direktur Utama PAM Jaya.
Pertumbuhan cakupan layanan PAM Jaya diklaim telah mengalami kenaikan lebih dari 20 persen dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun terakhir. Capaian ini dinilai sebagai kemajuan signifikan setelah perusahaan sempat mengalami stagnasi selama puluhan tahun sebelumnya.
"Sekarang pertumbuhan layanan kita sudah signifikan. Ini yang harus terus dijaga," tambah Arief, Direktur Utama PAM Jaya.
Selain masalah layanan, Arief menjelaskan fenomena Non-Revenue Water (NRW) yang sering kali hanya dianggap sebagai kebocoran teknis oleh publik. Ia meluruskan bahwa sebagian dari air yang tidak menghasilkan pendapatan tersebut merupakan cadangan air yang harus tetap tersedia dalam jaringan distribusi.
"NRW itu bukan hanya kebocoran. Ada juga air yang memang harus standby di pipa dan reservoir sebagai buffer stock. Ini bagian dari sistem distribusi, apalagi dengan panjang pipa di Jakarta yang sudah mencapai 13.000 kilometer," kata Arief, Direktur Utama PAM Jaya.
Meskipun mengakui adanya potensi kebocoran pada pipa-pipa yang sudah berusia tua, peremajaan infrastruktur terus diupayakan untuk menekan angka kehilangan air. Pemahaman mengenai perbedaan antara kebocoran fisik dan sistem distribusi buffer stock menjadi poin penting yang ditekankan pihak PAM Jaya.
"Memang ada pipa tua yang berpotensi bocor, itu kita akui. Tapi tidak semua NRW adalah kebocoran. Ini yang perlu dipahami," kata Arief, Direktur Utama PAM Jaya.
Secara keseluruhan, tingkat kepuasan pelanggan saat ini disebut telah melampaui angka 80 persen berdasarkan hasil survei independen. Gangguan teknis seperti kebocoran pipa insidental diakui masih terjadi sebagai bagian dari tantangan operasional harian di Jakarta.
"Kalau ada gangguan, itu bagian dari teknis yang kita hadapi setiap hari. Tapi secara umum layanan kita sudah jauh lebih baik," ujar Arief, Direktur Utama PAM Jaya.