Delegasi Iran yang dipimpin Mohammad Bagher Ghalibaf serta Abbas Araqchi bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance di Islamabad, Pakistan, pada Rabu (15/4/2026). Pertemuan tersebut menandai peran aktif Pakistan sebagai mediator dalam meredam ketegangan antara kedua negara besar tersebut.
Dilansir dari Nasional, Pakistan melalui Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Jenderal Asim Munir berhasil menjembatani komunikasi diplomatik antara Teheran dan Washington. Islamabad memanfaatkan saluran militer serta intelijen untuk mempercepat proses dialog guna menghindari risiko perang terbuka di kawasan tersebut.
Meskipun Presiden Indonesia Prabowo Subianto sebelumnya telah menawarkan diri sebagai mediator, posisi Indonesia dalam perundingan ini hanya sebatas memberikan dukungan terhadap gencatan senjata. Indonesia belum berhasil masuk ke dalam meja perundingan formal di Serena Hotel, Islamabad.
Kementerian Luar Negeri RI melalui Menteri Luar Negeri Sugiono sebenarnya sempat menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi dialog langsung antarpihak. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup kuat karena infrastruktur kepercayaan diplomatik yang belum terbangun secara proaktif di Timur Tengah.
Absennya Indonesia di meja perundingan ini berdampak pada kerentanan stabilitas ekonomi domestik, terutama terkait ketergantungan terhadap impor minyak. Jika stabilitas di Selat Hormuz terganggu, Indonesia menghadapi risiko pembengkakan subsidi BBM dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Strategi politik luar negeri Indonesia saat ini dianggap masih terjebak pada pendekatan reaktif dan fokus terhadap isu domestik. Padahal, sebagai negara dengan ekonomi besar, Indonesia memiliki modal politik melalui organisasi internasional seperti OKI, G20, dan ASEAN.
"Kekecewaan ini seharusnya menjadi katalisator, bukan sekadar bahan keluhan," tulis laporan Nasional mengenai posisi diplomatik Indonesia di kancah global. Evaluasi strategi diperlukan agar Indonesia tidak sekadar menjadi penonton dalam pengambilan keputusan strategis yang berdampak pada ekonomi nasional.
Saat ini, proses negosiasi di Islamabad masih terus berlangsung guna mencari titik temu permanen bagi stabilitas keamanan internasional. Pemerintah Indonesia tetap memantau perkembangan situasi sembari menekankan pentingnya kebebasan navigasi di jalur perdagangan energi dunia.