Layanan angkutan kota (angkot) berpendingin udara atau angkot AC rute D10A di Kota Depok dijadwalkan berhenti beroperasi mulai Sabtu, 2 Mei 2026. Keputusan penghentian layanan yang menghubungkan Terminal Jatijajar dan Terminal Depok Baru ini diumumkan secara resmi oleh manajemen PT Comuter Anak Bangsa (CAB) melalui media sosial perusahaan.
Dilansir dari Otomotif, penghentian operasional moda transportasi yang menggunakan unit Wuling Confero S ini dipicu oleh tingginya beban biaya operasional yang tidak sebanding dengan pendapatan. Sebagai penyedia jasa transportasi swasta murni, PT CAB menjalankan operasional tanpa dukungan subsidi dari pemerintah daerah.
Koordinator Lapangan PT CAB, Dodi, mengonfirmasi bahwa penyesuaian tarif yang dilakukan sebelumnya berdampak pada penurunan jumlah pengguna jasa. Meskipun penurunan jumlah penumpang tidak bersifat drastis, kondisi ini tetap memberatkan manajemen dalam menutup biaya harian kendaraan.
"Angkot ini swasta murni. Jadi kita tidak seperti Biskita yang dapat subsidi pemerintah. Jadi sekarang beratnya itu karena penumpang berkurang. Namun turunnya tidak banyak. Jadi berat dioperasional," kata Dodi, Koordinator Lapangan PT CAB.
Berdasarkan catatan operasional, tarif angkot AC tersebut telah mengalami beberapa kali penyesuaian dari semula Rp 1.000 hingga mencapai Rp 9.000. Kendati demikian, armada ini tetap menjadi pilihan utama masyarakat, khususnya para pekerja yang menuju stasiun KRL Depok karena efisiensi rute yang tidak memerlukan banyak transit.
"Awalnya tarifnya Rp 1.000, kemudian Rp 5.000, lalu Rp 7.000 lalu Rp 8.000. Saat tarifnya Rp 8.000 banyak sekali peminatnya," ujar Dodi.
Dodi mengharapkan adanya intervensi dari Pemerintah Kota Depok agar layanan transportasi ini tetap dapat dinikmati masyarakat. Ia menekankan bahwa bantuan tidak selalu harus berbentuk dana tunai, melainkan bisa melalui kebijakan keringanan biaya administrasi lainnya.
"Subsidi kan tidak semuanya berupa uang. Bisa saja dari KIR dari pajak, itu bisa saja. Para sopir sudah berkeluarga dan belum ada pengganti pekerjaan," kata Dodi.
Saat ini, PT CAB hanya mengoperasikan 8 unit armada dengan dukungan 10 orang pengemudi, berkurang dari jumlah awal sebanyak 15 personel saat peluncuran perdana. Menjelang hari terakhir operasional, manajemen tetap menyiagakan armada untuk melayani penumpang sesuai jadwal rutin harian.
"Kami malah tambah operasional di sisa-sisa hari operasi. Kami ingin memperlihatkan kepada management bahwa kita itu serius. Jadi kami kerja itu tidak main-main," kata Dodi.