Syekh M Al Deeb membeberkan dugaan praktik pernikahan menyimpang yang dilakukan oleh seorang oknum ulama di Kalimantan terhadap banyak perempuan di berbagai wilayah. Sebagaimana dilansir dari Suara, tindakan tersebut dilakukan dengan cara memanipulasi pemahaman agama para korban melalui penggunaan dalil-dalil palsu.
Aksi pernikahan berulang ini dilaporkan terjadi secara rutin, bahkan hingga frekuensi sebulan sekali dengan target perempuan yang berbeda-beda. Penjelasan mengenai penyimpangan perilaku oknum tersebut disampaikan oleh Syekh M Al Deeb dalam sebuah tayangan di kanal YouTube milik Arie Untung baru-baru ini.
Syekh M Al Deeb menjelaskan bahwa jangkauan korban dari pria yang menyandang predikat ulama tersebut telah meluas hingga ke luar Pulau Kalimantan. Salah satu kasus yang cukup menonjol melibatkan seorang korban di wilayah Jawa Barat yang mengalami dampak fisik serius akibat hubungan tersebut.
"Ternyata banyak, korban terakhir itu di Bandung sampai hamil tiga kembar dan saya sudah banyak dalil-dalil," kata Syekh M Al Deeb.
Pemanfaatan celah minimnya literasi agama pada diri korban menjadi senjata utama pelaku untuk memuluskan niatnya. Ia kerap memberikan argumen yang tidak berdasar pada sumber agama yang sah untuk meyakinkan para perempuan agar bersedia dinikahi secara tidak wajar.
"Jadi dia karena melihat akhwat itu enggak berilmu, dia kasih dalil-dalil yang palsu," ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, jumlah korban yang telah teridentifikasi terus bertambah seiring dengan keberanian para penyintas untuk saling berkomunikasi. Sebagian besar dari mereka kini mulai bergerak secara kolektif untuk mencari keadilan atas tindakan yang mereka alami.
"Sampai saat ini yang saya sudah tahu itu hampir lima atau enam orang. Tapi cerita dari korban-korban ternyata mereka juga sudah cari tahu ternyata ada korban-korban lain," imbuhnya.
Pihak Syekh M Al Deeb juga memberikan kritik tajam mengenai standar perilaku seseorang yang pantas disebut sebagai pemuka agama. Ia menilai ada perbedaan mendasar antara ulama yang sesungguhnya dengan oknum yang hanya memanfaatkan status sosial demi kepentingan nafsu pribadi.
"Kalau yang suka bicara tentang perempuan-perempuan, suka bercanda tentang perempuan-perempuan, enggak jaga pandangan, itu bukan ulama ini," ucapnya.
Meski identitas spesifik pelaku masih dirahasiakan untuk saat ini, penegasan dilakukan bahwa kasus ini harus segera diungkap ke publik demi mencegah jatuhnya korban baru. Syekh M Al Deeb menekankan pentingnya keterbukaan informasi mengenai rekam jejak tokoh agama tersebut.
"Ini harus terbuka," tuturnya.
Langkah selanjutnya yang akan diambil oleh para korban adalah melakukan pengumpulan bukti-bukti hukum yang kuat. Setelah seluruh bukti terkumpul secara komprehensif, kasus ini rencananya akan dipublikasikan secara luas agar masyarakat dapat mewaspadai modus serupa di masa mendatang.