Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai berpotensi memengaruhi permintaan pembiayaan kendaraan pada perusahaan pembiayaan atau multifinance. Risiko tersebut muncul terutama akibat penyesuaian harga kendaraan yang masih memiliki komponen impor.
Dikutip dari Investortrust, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut perlu diantisipasi oleh perusahaan pembiayaan.
"Perusahaan pembiayaan perlu memperkuat manajamen risiko, menjaga prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, serta menyesuaikan strategi bisnis secara adaptif agar tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas pembiayaan," ujarnya, dalam jawaban tertulis, dikutip Kamis (14/5/2026).
Agusman menambahkan bahwa penurunan nilai mata uang garuda ini juga dapat berdampak pada profil risiko industri multifinance jika memengaruhi kemampuan bayar debitur. Oleh karena itu, penguatan monitoring dan mitigasi risiko sangat diperlukan demi mempertahankan kualitas portofolio pembiayaan.
"Sejalan dengan hal tersebut, perusahaan pembiayaan cenderung akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan guna menjaga kualitas portofolio," katanya.
Dampak penurunan nilai tukar ini ternyata tidak hanya membayangi industri multifinance. Agusman menjelaskan bahwa industri modal ventura turut menghadapi peningkatan risiko, khususnya yang berkaitan dengan eksposur terhadap pendanaan dalam valuta asing (valas).
Kendati demikian, OJK memandang industri modal ventura masih memiliki ruang untuk mempertahankan kinerja secara berkelanjutan melalui tata kelola yang kuat dan diversifikasi portofolio.
"Dengan pengelolaan risiko yang baik, diversifikasi portofolio, serta penguatan tata kelola, industri modal ventura diharapkan tetap mampu menjaga kinerja secara berkelanjutan," ucap Agusman.
Hingga maret 2026, industri modal ventura tercatat masih membukukan kinerja positif dengan perolehan laba sebesar Rp 59,31 miliar.