Negara Teluk Adopsi Teknologi Anti-Drone Ukraina Hadapi Ancaman Iran

Negara Teluk Adopsi Teknologi Anti-Drone Ukraina Hadapi Ancaman Iran
Foto: Ilustrasi Negara Teluk Adopsi Teknologi Anti-Drone Ukraina Hadapi Ancaman Iran.

Negara-negara di kawasan Teluk bersama Amerika Serikat mulai mengadopsi teknologi anti-pesawat nirawak buatan Ukraina guna menangkal serangan drone murah milik Iran yang menyasar fasilitas strategis. Langkah ini diambil menyusul efektivitas sistem pertahanan Ukraina yang telah teruji dalam menghadapi ancaman serupa di medan perang Rusia-Ukraina.

Penggunaan drone sekali pakai yang diproduksi massal telah mengubah konstelasi konflik di Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Detik iNET. Iran memanfaatkan perangkat tersebut untuk menargetkan situs energi serta pangkalan udara, sementara AS dan Israel sebelumnya cenderung bergantung pada rudal pencegat dengan biaya operasional yang jauh lebih tinggi.

Pada akhir Maret, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melakukan kunjungan diplomatik ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Kunjungan tersebut bertujuan untuk menawarkan keahlian kontra-drone sekaligus menandatangani kesepakatan kerja sama pertahanan jangka panjang selama sepuluh tahun dengan ketiga negara tersebut.

Militer Amerika Serikat dilaporkan telah mengimplementasikan Sky Map, sebuah platform komando dan kontrol asal Ukraina, di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi. Sejumlah perwira dari Ukraina juga dikerahkan ke lokasi tersebut untuk memberikan pelatihan teknis penggunaan perangkat lunak deteksi drone kepada personel militer AS.

Drone Shahed-136 milik Iran, yang memiliki harga berkisar antara USD 20.000 hingga USD 50.000, menjadi ancaman serius karena jejak radarnya yang kecil meski bersuara bising. Sebagai perbandingan, sistem pencegat Ukraina hanya memerlukan biaya sekitar USD 1.000 hingga USD 3.000 untuk melumpuhkan target tersebut.

Salah satu perangkat pencegat yang diandalkan adalah The Sting, sebuah quadcopter yang mampu melesat hingga kecepatan 342 kilometer per jam. Selain itu, terdapat P1-Sun, drone pencegat hasil cetak 3D produksi perusahaan Skyfall yang mampu terbang dengan kecepatan 300 kilometer per jam untuk menghantam target di udara.

Sistem Sky Map yang dikembangkan oleh perusahaan Sky Fortress bekerja dengan mengintegrasikan lebih dari 10.000 sensor akustik di seluruh wilayah. Sensor berupa mikrofon sensitivitas tinggi ini berfungsi mendeteksi suara mesin drone, yang kemudian diolah melalui kecerdasan buatan (AI) untuk memandu unit pertahanan udara secara akurat.

Artikel terkait

Rekomendasi