Hampir 60 negara berkumpul di Santa Marta, Kolombia, pada Sabtu (2/5/2026) guna membahas percepatan transisi dari bahan bakar fosil menuju energi baru terbarukan (EBT). Dilansir dari Lestari, pertemuan ini bertujuan mengurangi dominasi negara produsen minyak terhadap stabilitas ekonomi global.
Kekhawatiran terhadap perubahan iklim dan ketidakpastian harga energi akibat konflik geopolitik menjadi latar belakang utama forum tersebut. Pengetatan pasokan gas dan minyak dipicu oleh ketegangan AS-Israel dengan Iran serta dampak lanjutan perang Rusia-Ukraina.
Ketergantungan pada fosil dinilai telah menjebak banyak negara dalam dinamika politik luar negeri yang sulit dikendalikan. Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan biaya pangan dan inflasi di berbagai belahan dunia.
Irene Velez Torres, Menteri Lingkungan Hidup Kolombia sekaligus ketua konferensi, menegaskan urgensi perubahan sistem energi tersebut bagi masa depan.
"Ini adalah awal dari demokrasi iklim global yang baru," ujar Irene Velez Torres.
Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, mengamati bahwa krisis saat ini menunjukkan kelemahan sistem energi dunia yang bergantung pada jalur distribusi sempit. Namun, kemajuan teknologi baterai dan kendaraan listrik kini menjadi solusi alternatif yang semakin nyata.
"Pemerintah akan meninjau strategi energi mereka. Akan ada peningkatan signifikan pada energi terbarukan dan tenaga nuklir serta pergeseran lebih lanjut menuju masa depan yang lebih terlistrik, dan ini akan mengurangi pasar utama untuk minyak," jelas Fatih Birol.
Sementara itu, Kepala Urusan Iklim PBB, Simon Stiell, menyoroti bagaimana lonjakan harga bahan bakar fosil justru memberikan efek sebaliknya bagi perkembangan energi bersih.
"Mereka yang selama ini berjuang untuk menjaga dunia tetap bergantung pada bahan bakar fosil secara tidak sengaja justru mempercepat pertumbuhan energi terbarukan global," beber Simon Stiell.
Stiell menambahkan bahwa investasi di sektor ramah lingkungan kini dipacu oleh keinginan setiap negara untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas ekonomi nasional mereka.
"Pemerintah mendorong rencana energi terbarukan secara maksimal untuk memulihkan keamanan nasional, stabilitas ekonomi, daya saing, otonomi kebijakan, dan kedaulatan dasar," sebut Simon Stiell.
Data dari lembaga Ember menunjukkan bauran EBT global telah mencapai 33,8 persen, melampaui penggunaan batu bara yang berada di angka 33 persen. Lonjakan instalasi panel surya tercatat sangat signifikan di Inggris dan Pakistan sejak pecahnya konflik di Timur Tengah.
Kendati demikian, tantangan besar masih ada karena negara-negara penghasil minyak besar seperti Amerika Serikat dan Rusia tetap meningkatkan produksi mereka. Biaya awal yang besar untuk beralih ke energi bersih menjadi hambatan utama bagi negara berkembang.
Sebagai solusi, konferensi mengusulkan pengalihan subsidi fosil senilai 1,5 triliun dolar AS per tahun serta penerapan pajak keuntungan bagi perusahaan energi besar. Para peserta kini diwajibkan menyusun peta jalan penghapusan bahan bakar fosil sebelum konferensi lanjutan di Tuvalu pada awal 2027.