Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, mengunjungi para siswa yang menjadi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya. Kunjungan tersebut dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Ikatan Bidan Indonesia (RSIA IBI) Surabaya pada Rabu (13/5/2026).
Dilansir dari Nasional, Pigai hadir untuk memberikan dukungan moril secara langsung kepada anak-anak yang sedang menjalani perawatan medis. Ia memotivasi para korban agar tetap semangat menempuh pendidikan setelah kondisi kesehatan mereka pulih sepenuhnya.
"Harus sembuh ya, sebentar lagi sembuh. Kalau sudah sembuh nanti harus kembali ke sekolah ya," katanya.
"Harus sekolah biar bisa raih semua cita-cita, nanti kalau sekolah bisa jadi menteri seperti saya," ucap Pigai.
Kehadiran negara dalam insiden ini dinilai krusial oleh Pigai untuk menjamin hak dasar anak tetap terlindungi. Ia menekankan pentingnya pemenuhan hak kesehatan, keamanan konsumsi pangan, serta perlindungan optimal bagi generasi muda.
Pigai menjelaskan bahwa program MBG sebenarnya merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperbaiki gizi nasional. Kebijakan ini dirancang untuk mengintervensi angka stunting serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Kendati demikian, peristiwa keracunan massal ini dipandang sebagai sinyal kuat perlunya evaluasi mendalam pada sistem operasional di lapangan. Pigai menyoroti proses pengolahan makanan yang harus diawasi dengan standar keamanan yang sangat ketat.
"Program MBG ini pada dasarnya memiliki tujuan mulia untuk pemenuhan gizi anak-anak kita. Namun, jika terjadi kesalahan dalam proses pengelolaan makanan, khususnya di dapur, maka hal tersebut harus dievaluasi total dan ditindaklanjuti," katanya.
Berdasarkan laporan kronologi, dugaan penyebab keracunan massal ini mengarah pada aktivitas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bubutan Tembok Dukuh. Petugas terkait masih melakukan pendalaman terhadap standar sanitasi dan prosedur di lokasi tersebut.
Data medis mencatat total sebanyak 131 peserta didik harus dirujuk ke RSIA IBI Surabaya untuk mendapatkan penanganan darurat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 124 pasien telah dinyatakan stabil dan diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.
Hingga saat ini, tujuh pasien lainnya dilaporkan masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Pemerintah memastikan seluruh proses pemulihan para korban akan terus dipantau hingga mereka benar-benar dinyatakan sehat secara medis.