Nadiem Makarim Ungkap Alasan Terima Jabatan Menteri di Sidang Korupsi

Nadiem Makarim Ungkap Alasan Terima Jabatan Menteri di Sidang Korupsi
Foto: Ilustrasi Nadiem Makarim Ungkap Alasan Terima Jabatan Menteri di Sidang Korupsi.

Eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, memberikan kesaksian dalam sidang kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (11/5/2026). Nadiem membeberkan alasannya menerima mandat Presiden ke-7 RI Joko Widodo meskipun sempat memiliki keinginan untuk menolak jabatan menteri tersebut.

Dilansir dari Nasional, Nadiem menilai bahwa posisi menteri bukan merupakan tempat yang ideal bagi individu yang mengedepankan integritas karena penuh tantangan. Ia menegaskan bahwa pilihannya menjadi pejabat publik didasari oleh keinginan memberikan pengabdian terbaik kepada negara.

ÔÇ£Saya menjadi menteri itu bukan keputusan yang mudah. Karena saya tahu, menjadi menteri itu, untuk orang jujur ya, bukan hal yang menyenangkan. Untuk orang tidak jujur bisa sangat menyenangkan. Tapi, untuk orang yang jujur dan tidak haus kekuasaan atau punya ambisi, itu bukan suatu hal yang menyenangkan,ÔÇØ ujar Nadiem.

Mantan bos perusahaan teknologi ini menyebutkan bahwa dorongan utama yang mengubah pikirannya adalah kondisi sektor pendidikan Indonesia yang dinilai memprihatinkan. Penilaian tersebut menjadi landasan baginya untuk berani mengambil risiko politik dan pribadi.

ÔÇ£Kondisi sistem pendidikan kita itu bukan cuma kritis, tapi kalau pasien itu bisa dibilang sudah koma. Sudah stagnan berpuluh-puluh tahun,ÔÇØ ucap dia.

Meski telah diperingatkan oleh banyak pihak terkait risiko yang akan dihadapi, Nadiem memilih untuk tidak mundur. Ia mengaku memikirkan warisan cerita yang akan disampaikan kepada anak-anaknya di masa depan mengenai kesempatan membangun bangsa.

ÔÇ£Apakah dalam waktu 10 tahun saya akan bercerita kepada anak-anak saya bahwa ayahnya ditawari kesempatan untuk membangun generasi penerus bangsa dan menolaknya karena takut?ÔÇØ kata Nadiem.

Keputusannya untuk tetap maju diimbangi dengan kesiapan menghadapi segala konsekuensi negatif, termasuk kegagalan maupun kecaman dari publik. Hal ini dipandang Nadiem sebagai bentuk nyata dari pengorbanan dalam bernegara.

ÔÇ£Antara dua opsi ini mana yang lebih baik saya pilih, dan saya memilih yang kedua. Karena saya mau memberikan contoh kepada anak-anak saya apa artinya pengabdian,ÔÇØ ujar dia.

Penegasan mengenai nilai sebuah tanggung jawab kembali disampaikan Nadiem di hadapan majelis hakim. Ia menekankan bahwa tidak ada tugas besar yang bisa dijalankan tanpa adanya sesuatu yang dikorbankan.

ÔÇ£Tidak ada pengabdian di dunia ini tanpa pengorbanan,ÔÇØ sambung dia.

Nadiem juga secara tegas menepis tudingan bahwa motivasinya masuk ke dalam kabinet pemerintahan adalah untuk mengejar kekayaan tambahan. Menurutnya, penghasilan yang didapat saat masih berada di sektor swasta jauh melampaui apa yang diterimanya sebagai pejabat.

ÔÇ£Kalau saya menginginkan kekayaan tambahan, sangat mudah bagi saya. Saya tinggal saja di Gojek dan saya akan mendapatkan kekayaan yang jauh lebih besar,ÔÇØ kata dia.

Terkait posisinya sebagai terdakwa saat ini, Nadiem merefleksikan diri bahwa dirinya mungkin memiliki kekurangan dalam bermanuver di ranah politik. Ia mengaku lebih fokus pada aspek pekerjaan teknis dibandingkan membangun relasi politik.

ÔÇ£Kalau memang ambisi politik itu ada, kenapa saya punya reputasi dan mungkin kenapa saya masuk dalam situasi ini hari ini adalah karena saya kurang berpolitik," ujar Nadiem.

Sifat pragmatis yang mengedepankan hasil kerja dianggapnya sebagai salah satu faktor yang membawanya berurusan dengan hukum. Nadiem menyatakan orientasinya selama menjabat murni hanya untuk bekerja.

ÔÇ£Maunya kerja saja. Mungkin itu salah satu alasan saya ada di meja ini sekarang,ÔÇØ sambung dia.

Lebih lanjut, visi pendidikan yang ia jalankan merupakan upaya menerjemahkan keinginan Presiden Jokowi dalam menghadapi perubahan zaman. Nadiem menyoroti tantangan besar yang akan dihadapi oleh industri akibat perkembangan teknologi di masa depan.

ÔÇ£Dalam 10-20 tahun ke depan, disrupsi teknologi akan mengubah total cara kita bekerja di industri,ÔÇØ kata dia.

Ia mengingatkan dampak buruk yang akan terjadi jika sistem pendidikan nasional tidak segera melakukan adaptasi terhadap perubahan global. Nadiem khawatir Indonesia akan tertinggal jauh jika tetap menggunakan pola lama.

ÔÇ£Sekarang bayangkan apa yang akan terjadi kalau sistem pendidikan kita bukan melihat 10-20 tahun ke depan, tapi malah nyangkut 10-20 tahun ke belakang,ÔÇØ ucap dia.

Nadiem menjelaskan bahwa penggunaan teknologi dalam sekolah hanyalah sebagian dari strategi besar yang ia rancang. Transformasi mendasar yang diinginkannya justru terletak pada perubahan mentalitas para pengajar.

ÔÇ£Bagian besarnya bukan masalah digitalisasinya, melainkan mengubah pola pikir pendidik kita,ÔÇØ kata dia.

Perubahan tersebut mencakup pergeseran metode pembelajaran dari sekadar hafalan menjadi penguatan logika dan penyelesaian masalah. Hal ini diterapkan melalui sistem penilaian nasional yang baru.

ÔÇ£Asesmen nasional bukan mengetes pengetahuan, tapi mengetes kemampuan memecahkan permasalahan dan kemampuan bernalar kritis,ÔÇØ ujar dia.

Selama menjalani masa penahanan yang hampir mencapai sembilan bulan, Nadiem mengaku menghabiskan banyak waktu untuk berkaca pada masa kepemimpinannya. Ia menyadari statusnya sebagai menteri termuda membawa hambatan tersendiri.

ÔÇ£Saya sudah hampir 8 sampai 9 bulan di penjara. Itu banyak waktu, Pak, untuk melakukan refleksi,ÔÇØ kata dia.

Kelemahan dalam memahami tata kelola birokrasi dan peta politik diakui Nadiem sebagai kendala utama saat menjabat di usia 36 tahun. Ia merasakan adanya perbedaan budaya yang signifikan antara dunia korporasi dengan pemerintahan.

ÔÇ£Saya tidak mengerti peta politik. Saya tidak mengerti bahwa birokrasi itu tidak bisa sekejap dibawa seperti budaya swasta,ÔÇØ ujar dia.

Di akhir pernyataannya, Nadiem menekankan bahwa ia tetap memegang teguh kejujuran selama lima tahun bertugas. Ia mengklaim tidak pernah menerima uang secara tidak sah atau mengorbankan prinsip moralnya.

ÔÇ£Walaupun saya tidak pernah mengambil sepeser pun uang, tidak pernah dalam lima tahun saya mengompromikan atau mempertaruhkan integritas saya, tidak pernah sekalipun,ÔÇØ kata dia.

Nadiem menegaskan komitmennya dengan sumpah bahwa integritas merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar baginya. Penegasan ini disampaikan sebagai pembelaan atas integritas pribadinya selama menjabat.

ÔÇ£Tapi, sekali lagi, satu hal yang saya sumpahkan hari ini, tidak sekalipun saya pernah mengorbankan integritas saya. Itu adalah harga mati bagi saya,ÔÇØ sambung Nadiem.

Artikel terkait

Rekomendasi