MRT Jakarta Fase 2A Hubungkan Rel Bundaran HI dan Thamrin

MRT Jakarta Fase 2A Hubungkan Rel Bundaran HI dan Thamrin
Foto: Ilustrasi MRT Jakarta Fase 2A Hubungkan Rel Bundaran HI dan Thamrin.

Proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2A mencatatkan capaian baru dengan tersambungnya jalur rel antara Stasiun Bundaran HI dan Stasiun Thamrin. Perkembangan ini menandai integrasi fisik antara Fase 1 yang sudah beroperasi dengan Fase 2A yang sedang dikerjakan.

Dilansir dari Kompas, keterhubungan ini dipastikan setelah PT MRT Jakarta (Perseroda) merampungkan pengecoran lapisan dasar rel atau track bed pada terowongan arah utara (northbound). Lintasan sepanjang 5,8 kilometer ini nantinya akan memperluas jangkauan MRT hingga Stasiun Kota.

Pihak pengelola menargetkan segmen pertama yang meliputi Bundaran HI hingga Monas dapat mulai melayani penumpang pada akhir 2027. Sementara itu, pengerjaan segmen lanjutan yang berakhir di Stasiun Kota diproyeksikan selesai sepenuhnya pada 2029.

Fase 2A ini akan memiliki tujuh stasiun bawah tanah yang meliputi Stasiun Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Selain infrastruktur transportasi, proyek ini juga mengusung konsep kawasan berorientasi transit (TOD) untuk mengintegrasikan ruang publik dengan mobilitas masyarakat.

Progres Konstruksi dan Tahapan Selanjutnya

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda) Weni Maulina menjelaskan bahwa fokus pengerjaan saat ini beralih ke pengecoran track bed untuk terowongan arah selatan (southbound) pada lintas yang sama.

"Metode kerja ini dilakukan karena kami juga siap untuk mulai melakukan instalasi pintu tepi peron atau platform screen door," kata Weni.

Setelah jalur Bundaran HI-Thamrin tuntas, pengecoran akan diteruskan ke lintasan Thamrin-Monas untuk kedua arah. Target penyelesaian pengecoran seluruh terowongan dipatok pada akhir 2026, sedangkan pekerjaan sipil secara menyeluruh diharapkan rampung pada akhir 2027.

Penyelesaian tepat waktu sangat krusial agar tahapan integrating, commissioning, and testing (ICT) bisa segera dilaksanakan. Berdasarkan data per Maret 2026, progres pembangunan fisik secara keseluruhan telah mencapai 59,19 persen, melampaui target awal yang ditetapkan sebesar 57,52 persen.

Spesifikasi Teknologi Rel asal Jepang

Infrastruktur rel pada Fase 2A menggunakan material dari Nippon Steel, Jepang, dengan teknologi direct fixation track. Sistem ini didukung oleh bantalan beton pra-tegang (PC Sleeper) yang dirancang memiliki daya tahan operasional hingga 50 tahun dengan biaya perawatan minimal.

Selain beton, digunakan pula bantalan sintetis (Synthetic Sleeper Material) berbahan serat kaca dan busa poliuretan untuk area wesel dan persilangan. Material ini dipilih karena keunggulannya dalam ketahanan terhadap air, zat kimia, serta kemampuan isolasi listrik yang mumpuni.

Dalam hal penyambungan, kontraktor menerapkan metode Continuous Welded Rail (CWR) melalui teknik flash butt welding dan thermit welding. Teknik flash butt welding memberikan kekuatan sambungan yang setara dengan material asli dan stabil menghadapi perubahan suhu yang ekstrem.

Artikel terkait

Rekomendasi