Misteri Pulau Karya: Jejak Kelam Orde Baru di Balik Jernihnya Laut

Misteri Pulau Karya: Jejak Kelam Orde Baru di Balik Jernihnya Laut
Foto: Ilustrasi Misteri Pulau Karya: Jejak Kelam Orde Baru di Balik Jernihnya Laut.

Di balik jernihnya air laut Pulau Seribu ada kisah kelam yang mulai terlupakan. Saksi bisu kekelaman Orde Baru, inilah tempat eksekusi Orde Baru, Pulau Karya.

Bagi mata turis yang sekadar lewat, pulau ini tampak bersahaja dengan deretan kantor dinas, pemakaman umum dan rimbunnya pepohonan. Namun, bagi warga asli seperti Sopyan Hadinata, yang akrab disapa Iyan, Pulau Karya adalah buku sejarah berdarah yang ditulis oleh letusan senapan dan bisikan-bisikan tak kasatmata.

Dahulu, sebelum menjadi area administratif dan pemakaman, Pulau Karya adalah hutan lebat yang menyimpan keheningan mencekam. Di era Orde Baru, pulau ini menjadi "zona terlarang". Iyan mengenang bagaimana orang tua zaman dulu mendidik mereka untuk menaruh hormat setinggi langit kepada tentara yang datang membawa bedil.

"Dulu, kalau ada kapal tentara merapat, kami langsung tahu: itu artinya latihan menembak. Kami tidak berani mendekat, tidak berani bertanya. Yang kami dengar dari seberang dermaga hanyalah suara letusan peluru. Kami pikir itu latihan rutin," kenang Iyan, Warga Asli Pulau Panggang.

Rahasia itu benar-benar meledak ke permukaan saat pembangunan pulau dimulai sekitar tahun 2000-an. Saat cangkul-cangkul warga menghujam tanah untuk membangun rumah dinas dan kantor polisi, yang mereka temukan bukanlah sekadar akar pohon, melainkan puluhan tengkorak manusia tanpa identitas.

"Suara tembakan itu bukan latihan, melainkan eksekusi," ujar Iyan, Warga Asli Pulau Panggang.

Masa lalu Pulau Karya sebagai tempat peristirahatan terakhir mereka yang "dihilangkan" pun terkuak, meninggalkan trauma yang membekas dalam ingatan warga.

Teror yang Tak Pernah Tidur

Keangkeran Pulau Karya bukanlah isapan jempol belaka. Kabar tentang gangguan gaib menyebar di antara para petugas yang berdinas di sana. Ada cerita tentang polisi yang tertidur lelap di dalam kantor, namun saat terbangun di pagi hari, tubuhnya sudah terbaring di tanah terbuka di luar gedung. Bahkan, para narapidana yang pernah mendekam di sana dikabarkan lebih memilih sel sempit di Cipinang daripada harus menghadapi teror di Pulau Karya.

"Pernah ada narapidana yang sampai memohon-mohon ingin pindah. Mereka tidak tahan diganggu. Bayangkan, sedang tidur, lalu tiba-tiba ditunjukkan penampakan jari-jari makhluk halus yang besarnya seukuran pisang ambon. Mereka merasa disiksa secara batin oleh penghuni tak kasatmata di sana," tutur Iyan, Warga Asli Pulau Panggang.

Iyan sendiri punya pengalaman pribadi yang membuat bulu kuduk berdiri. Suatu malam, ia membawa teman-teman kampusnya berkemah di tepi pantai Pulau Karya. Meski sudah melakukan ziarah untuk meminta izin, alam gaib punya caranya sendiri untuk "menyapa". Saat badai dan angin kencang tiba-tiba menerjang, Iyan berlari dari ujung pulau untuk menyelamatkan teman-temannya yang tertidur di tenda. Namun, ia justru mendapati mereka sudah berdiri rapi di dermaga, siap untuk pulang.

"Saya kaget bukan main melihat mereka sudah menunggu. Saat saya tanya kenapa mereka bangun, mereka bilang, 'Lho, kan tadi kamu sendiri yang datang ke tenda, bangunin kami dan menyuruh siap-siap.' Saat itu jantung saya serasa berhenti. Saya sadar, yang membangunkan mereka bukan saya, tapi sesuatu yang menyerupai saya. Saya hanya bisa diam, pura-pura tenang, dan segera membawa mereka menyeberang pulang ke Pulau Panggang sebelum hal yang lebih buruk terjadi," papar Iyan, Warga Asli Pulau Panggang.

Harmoni dalam Kegelapan

Bagi Iyan, hidup berdampingan dengan Pulau Karya adalah tentang menjaga keseimbangan. Ada aturan tak tertulis yang sangat sakral bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di sana: jangan pernah berkata kasar dan jangan sekali-kali berbuat mesum. Pulau ini seolah memiliki telinga dan mata yang terus mengawasi setiap gerak-gerik manusia. Di sini, cerita horor itu sudah jadi bagian dari napas warga yang hanya ingin menjaga kedamaian agar tetap ada.

"Di sini, cerita horor itu sudah jadi bagian dari napas kami. Kami tidak takut, kami hanya hormat. Pokoknya prinsip kami satu: kita hidup berdampingan di dunia yang berbeda, dan tidak saling mengganggu. Biarlah rahasia masa lalu itu terkubur bersama mereka, dan kami di sini hanya menjaga agar kedamaian itu tetap ada," pungkas Iyan, Warga Asli Pulau Panggang.

Artikel terkait

Rekomendasi