Militer Israel mengumumkan telah menewaskan pimpinan militer Hamas di Gaza, Ezzedin al-Haddad, melalui serangan udara pada Jumat (15/5) malam. Langkah tersebut diklaim sebagai tindakan eliminasi terhadap target utama yang diburu terkait peristiwa 7 Oktober 2023, meskipun wilayah itu kini secara teknis sedang dalam masa gencatan senjata.
Seperti dikutip dari Media Indonesia, tokoh veteran Hamas yang mengambil alih komando militer pascat tewasnya pemimpin terdahulu itu dilaporkan meninggal di kawasan Al-Rimal, Kota Gaza. Pihak Israel menuduh Haddad berperan sebagai salah satu perencana utama serangan ke wilayah selatan Israel yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan sekitar 250 orang disandera.
Pihak Israel menyatakan bahwa pesawat tempur dikerahkan untuk menyasar Haddad segera setelah mereka memperoleh informasi intelijen mengenai lokasi keberadaannya. Sejumlah saksi mata di Kota Gaza melaporkan adanya suara ledakan keras di lingkungan Al-Rimal sekitar pukul 20.00 waktu setempat.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa militer menjalankan kebijakan untuk bertindak secara pre-emptif terhadap ancaman yang ada. Namun, operasi militer ini memicu pertanyaan lantaran dilaksanakan di tengah kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlangsung di kantong wilayah tersebut.
Terkait dampak korban, otoritas kesehatan Palestina melaporkan bahwa dalam 48 jam terakhir terdapat 13 orang tewas dan 57 lainnya luka-luka di Gaza akibat rentetan serangan. Kendati demikian, pihak otoritas tidak merinci jumlah kombatan di antara korban tersebut.
Profil Pemimpin Militer Ghost of al-Qassam
Haddad dikenal dengan julukan Ghost of al-Qassam karena profilnya yang sangat tertutup. Ia tercatat pernah selamat dari beberapa upaya pembunuhan oleh Israel sebelumnya. Selain dituduh merencanakan serangan 7 Oktober, ia juga dinilai bertanggung jawab dalam merekrut pejuang baru serta mengawasi penahanan sandera Israel.
Berdasarkan laporan yang ada, Haddad bergabung dengan Hamas sejak tahun-tahun awal pembentukan organisasi tersebut dan meniti karier melalui Brigade Al-Qassam. Ia juga sempat bertugas di al-Majd, sebuah unit keamanan internal Hamas yang berfungsi memburu kolaborator dan mata-mata.
Upaya Membangun Kembali Kekuatan
Ketika Haddad mengambil alih jabatan kepala militer Gaza pada musim semi 2025, ia menjadi pemimpin ketiga dalam kurun waktu tujuh bulan menyusul tewasnya Yahya dan Mohammed Sinwar. Dari belasan anggota senior dewan militer Hamas sebelum perang, Haddad merupakan salah satu dari sedikit yang masih hidup hingga akhirnya dinyatakan tewas.
Di bawah kepemimpinannya, Haddad berupaya membangun kembali jajaran militer Hamas yang menyusut drastis dengan menarik ribuan rekrutan baru, walaupun mereka dilaporkan kurang terlatih dan minim peralatan. Hingga kini, Hamas tetap menolak tekanan untuk melucuti senjata dan terus mempertahankan otoritasnya atas sekitar 40% wilayah Gaza yang tidak berada di bawah kendali militer Israel.
Nickolay Mladenov, selaku perwakilan tinggi untuk Gaza, menyatakan bahwa kegagalan Hamas untuk melucuti senjata menjadi hambatan bagi kemajuan kesepakatan damai. Di sisi lain, pihak Hamas membantah tuduhan bahwa mereka menghalangi upaya pembangunan tempat tinggal sementara bagi penduduk Gaza.
Meskipun Israel mengklaim telah menghancurkan sebagian besar gudang senjata Hamas dan menewaskan ribuan pejuangnya, militer Israel tetap melakukan serangan rutin terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai ancaman di sepanjang garis pembatas.