Militer Israel Larang Pengungsi Lebanon Selatan Pulang ke Rumah

Militer Israel Larang Pengungsi Lebanon Selatan Pulang ke Rumah
Foto: Ilustrasi Militer Israel Larang Pengungsi Lebanon Selatan Pulang ke Rumah.

Militer Israel dilaporkan masih melarang para pengungsi di Lebanon selatan untuk kembali ke kediaman mereka meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diperpanjang selama tiga pekan sejak Kamis (23/4/2026). Larangan ini berlaku di zona pendudukan khusus yang disebut sebagai Garis Kuning.

Kelelahan akibat konflik yang berkepanjangan mulai dirasakan oleh masyarakat di wilayah selatan Lebanon sebagaimana dilansir dari Kompas. Penolakan akses masuk bagi warga sipil ke sejumlah daerah dilakukan seiring dengan pengumuman Israel untuk tetap menduduki sebagian wilayah tersebut pasca-gencatan senjata.

Kondisi di lapangan menunjukkan ketegangan yang belum mereda bagi para pencari suaka. Huda Kamal Mansour, seorang pengungsi asal Aitaroun yang kini menetap di stadion di Beirut selama 45 hari terakhir, menyatakan ketidakpastian situasi keamanan di kampung halamannya.

"Setiap kali kami terusir, ada justifikasi yang berbeda. Awalnya karena perang di Gaza, sekarang di Iran. Kami tidak bisa lagi menoleransi perang ini," kata Mansour dikutip Al Jazeera, Sabtu (25/4/2026).

Penghancuran infrastruktur sipil secara masif di wilayah Aitaroun juga dilaporkan telah terjadi. Mansour mengungkapkan bahwa hampir seluruh bangunan rumah di desanya telah diratakan oleh kekuatan militer selama masa serangan berlangsung.

"Hampir tidak ada jarak antara kami dengan tentara Israel saat mereka menyerang Lebanon selatan. Saya hanya bisa mendengar suara ledakan menghantam desa-desa," kata Mansour.

Upaya evakuasi warga dari desa-desa di perbatasan dilakukan di bawah pengawasan ketat unit tempur darat. Mansour menggambarkan bagaimana pemukiman mereka dikepung sebelum akhirnya dihancurkan sepenuhnya.

"Kami diminta evakuasi dari desa, lalu tank-tank mengelilingi kami. Israel tidak membiarkan satu rumah pun berdiri di sana," kata Mansour.

Langkah diplomatik sebenarnya telah ditempuh melalui perundingan antara delegasi Lebanon dan Israel di Washington, Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Lebanon Youssef Ragi menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah adalah pemulihan kedaulatan wilayah dan pengakhiran krisis nasional.

Menteri Luar Negeri Lebanon Youssef Ragi menyatakan perundingan dengan Israel diharapkan bisa mengeluarkan negaranya dari kondisi krisis. Penegasan mengenai tujuan diplomasi tersebut disampaikan guna mengakhiri pendudukan militer asing.

Namun, pelanggaran terhadap kesepakatan damai dilaporkan kembali terjadi pada Sabtu (25/4/2026). Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat serangan militer Israel ke Kota Yahmor Al-Shafiq telah mengakibatkan empat orang warga sipil tewas di lokasi kejadian.

Artikel terkait

Rekomendasi