Sejumlah kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang sedang menuju Gaza, Palestina, dilaporkan telah dicegat oleh militer Israel di Laut Mediterania timur. Penangkapan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) oleh angkatan laut Israel sejak Senin (18/5/2026) memicu perhatian global, seperti dilansir dari Nasional.
Misi internasional ini bertujuan menyalurkan bantuan kemanusiaan sekaligus menantang blokade Gaza yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Pasukan Israel sejauh ini telah mencegat 41 kapal armada GSF, namun 10 kapal lainnya dilaporkan tetap melanjutkan pelayaran menuju wilayah tersebut.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad), Dina Sulaeman menuturkan, GSF pada dasarnya adalah jaringan solidaritas internasional yang berisi relawan kemanusiaan, aktivis, tenaga medis, dan jurnalis dari berbagai negara. Mereka berusaha menembus blokade Gaza untuk mengirim bantuan kemanusiaan karena Gaza sudah diblokade Israel sejak tahun 2007.
Koalisi ini merupakan gabungan dari berbagai jaringan solidaritas Palestina dan organisasi kemanusiaan sipil. Nama "sumud" diambil dari bahasa Arab yang berarti "keteguhan" atau "ketahanan", istilah yang menggambarkan daya bertahan rakyat Palestina.
"GSF bukan lembaga tunggal formal seperti NGO biasa, melainkan koalisi internasional berbagai jaringan solidaritas Palestina dan organisasi kemanusiaan sipil," kata Dina kepada Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Misi kemanusiaan lewat jalur laut ini bukan gerakan baru. Pada tahun 2010, insiden berdarah menimpa kapal Mavi Marmara dari Turki yang disergap pasukan Israel di laut internasional hingga menewaskan 10 aktivis Turki dan memicu krisis diplomatik besar.
Sejak peristiwa itu, organisasi seperti Freedom Flotilla Coalition (FFC) dan International Committee to Break the Siege of Gaza terus mengorganisasi pelayaran secara berkala. FFC tercatat mengirim armada pada 2010, 2011, 2015, 2016, 2018, 2024, hingga rangkaian misi Global Sumud Flotilla pada 2025ÔÇô2026.
"Sebagian besar misi tersebut dicegat, disita, atau diintervensi militer Israel sebelum berhasil mencapai Gaza," ujar dia.
Gelombang baru gerakan GSF menguat setelah perang Gaza 2023ÔÇô2026 memperparah krisis kemanusiaan. Beberapa organisasi yang tergabung di dalamnya antara lain FFC, Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, dan Sumud Nusantara.
"Organisasi yang gabung di GSF, menurut info yang ada di internet, Freedom Flotilla Coalition (FFC), Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, dan Sumud Nusantara," jelas Dina.
Misi Independen dan Tujuan Kemanusiaan
Berdasarkan informasi dari laman resminya, GSF menegaskan tidak terafiliasi dengan pemerintahan manapun. Misi perdana dimulai pertengahan 2025, dilanjutkan dengan misi GSF 2.0 pada April dan Mei 2026 yang melibatkan lebih dari 70 kapal dan 1.000 peserta dari 70 negara.
"Kedaulatan atas tanah dan perairan Palestina sepenuhnya milik rakyat Palestina," tegas GSF.
Pelayaran tahun 2026 ini mengusung enam tujuan utama, termasuk menegaskan hak akses maritim sipil dan mengirim bantuan skala besar berupa makanan, susu formula bayi, perlengkapan sekolah, serta obat-obatan. GSF juga berniat mengirim tim khusus untuk mendampingi warga Palestina dalam rekonstruksi awal bangunan yang rusak.
"Menjadikan flotilla sebagai pemicu mobilisasi terkoordinasi di darat maupun laut, memperkuat suara rakyat Palestina, serta memberdayakan masyarakat dunia untuk bertindak ketika government dan institusi internasional dianggap gagal menjalankan perannya," sebut GSF.
Relawan gerakan ini mencakup berbagai profesi seperti dokter, mahasiswa, buruh, dan jurnalis. Delegasi dari Indonesia yang bergabung dalam misi Global Peace Convoy Indonesia di antaranya adalah Chiki Fawzi dan Wanda Hamidah.
Reaksi Internasional dan Sikap Pemerintah Indonesia
Pencegatan armada kemanusiaan ini menuai kecaman keras dari dunia internasional. Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan, mengecam intervensi militer Israel terhadap armada yang ia sebut sebagai "para pengelana harapan" tersebut dan mendesak aksi nyata global.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) merilis pernyataan bersama Menlu RI Sugiono dan para menteri luar negeri dari Turkiye, Bangladesh, Brasil, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol. Mereka mendesak Israel segera melepaskan seluruh kapal beserta awak yang ditahan.
Kemlu RI saat ini tengah berkoordinasi untuk mendapatkan informasi valid mengenai kondisi WNI yang ditahan. Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang menyatakan bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah kontingensi dan fasilitasi pelindungan.
"Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat," tegas Juru Bicara Kemlu, Yvonne Mewengkang, Selasa.
Aksi protes besar juga pecah di beberapa kota Eropa seperti Roma, Milan, Napoli, Turin, dan Athena pada Senin (18/5/2026). Ribuan demonstran turun ke jalan membawa bendera Palestina sebagai bentuk solidaritas terhadap misi flotilla.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Israel memberikan peringatan keras dan melabeli misi kemanusiaan tersebut sebagai aksi provokasi. Pihak Israel menegaskan tidak akan mengizinkan adanya pelanggaran terhadap blokade laut di wilayah Gaza.