Gempuran udara militer Israel pada Sabtu (23/5) dini hari waktu setempat merusak sebuah rumah sakit di kota Tyre, Libanon selatan. Laporan mengenai kehancuran fasilitas medis di kawasan konflik tersebut pertama kali dirilis oleh kantor berita negara NNA yang dilansir dari Media Indonesia.
Dampak serangan udara tersebut mengakibatkan kerusakan yang sangat parah pada struktur Rumah Sakit Hiram. Kerusakan fasilitas mencakup ruang operasi, tempat tinggal perawat, kamar perawatan pasien, klinik, instalasi jaringan listrik, hingga seluruh jendela bangunan.
Agresi militer ini juga menghancurkan bangunan lain di kota Tyre hingga rata dengan tanah. Selain itu, jet tempur Israel merusak banyak rumah warga di sekitarnya serta infrastruktur publik vital, termasuk jaringan air bersih, aliran listrik, dan akses jalan internal di kawasan permukiman.
Sejumlah ambulans dan tim pertahanan sipil segera dikerahkan ke lokasi kejadian untuk menilai tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Pada saat yang sama, pasukan Israel dilaporkan melancarkan serangan udara lanjutan yang menyasar kota Yohmor al-Shaqif.
Pejabat Libanon mencatat lebih dari 3.000 orang tewas dan 1,6 juta warga mengungsi akibat rangkaian serangan terbaru Israel yang dimulai sejak 2 Maret. Eskalasi ini terjadi tidak lama setelah Hizbullah melakukan serangan balasan yang berkaitan dengan perang Iran.
Operasi militer Israel di wilayah Libanon terus berlangsung hingga saat ini. Padahal, kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat masih berlaku resmi hingga awal Juli mendatang.