Dua raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Meta dan Microsoft, mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berpotensi menghilangkan 20.000 posisi pekerjaan pada Minggu (26/4/2026). Langkah ini dilakukan di tengah ambisi perusahaan untuk mencapai efisiensi operasional setelah melakukan investasi besar-besaran pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Gelombang pengurangan staf ini menyusul kebijakan serupa yang sebelumnya telah dilakukan oleh Amazon. Sebagaimana dilansir dari Detik Finance, perusahaan-perusahaan teknologi tersebut telah mengalokasikan dana ratusan miliar dolar setiap tahun demi memenuhi lonjakan permintaan layanan AI, sehingga penyesuaian jumlah karyawan kini menjadi fokus utama.
Selain faktor AI, perusahaan masih berupaya menyeimbangkan skala organisasi setelah periode perekrutan besar-besaran selama masa pandemi. Data dari Layoffs.fyi mencatat bahwa lebih dari 92.000 pekerja teknologi telah diberhentikan sepanjang tahun 2026, menambah total angka PHK sektor teknologi AS menjadi hampir 900.000 orang sejak tahun 2020.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan ekonom dan pakar industri mengenai potensi krisis tenaga kerja akibat cepatnya integrasi AI di berbagai korporasi Amerika. Anthony Tuggle, seorang pelatih eksekutif dan pakar kepemimpinan yang memiliki latar belakang di bidang AI, menilai situasi ini sebagai perubahan yang bersifat permanen.
"Ini mewakili pergeseran struktural mendasar daripada koreksi pasar sementara. Kita sedang menyaksikan awal dari transformasi permanen dalam cara kerja diorganisasikan dan dieksekusi di berbagai industri," kata Anthony Tuggle, pakar kepemimpinan.
Meskipun kecemasan akan keamanan kerja meningkat sejak kehadiran ChatGPT pada akhir 2022, para pendukung teknologi mengklaim bahwa AI akan membentuk kembali peran manusia alih-alih menggantikannya sepenuhnya. Berdasarkan studi Motion Recruitment tahun 2026, adopsi AI mulai memperlambat perekrutan untuk posisi pemula, namun secara bersamaan membuka banyak peluang bagi ahli spesialis AI.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat gaji di sektor teknologi cenderung stagnan jika dibandingkan dengan tahun 2025. Pengecualian hanya berlaku bagi peran-peran tertentu yang membutuhkan keahlian khusus, seperti insinyur kecerdasan buatan.
Rajat Bhageria, CEO startup AI fisik Chef Robotics, memberikan pandangannya mengenai ketidakpastian bentuk lapangan kerja baru yang akan tercipta di masa depan.
"Kita baru mulai memahami seberapa banyak pekerjaan harian kita yang dapat ditangani AI untuk kita di berbagai jenis pekerjaan," kata Rajat Bhageria, CEO Chef Robotics.