Meta dan Microsoft Umumkan PHK 20.000 Karyawan Akibat Efisiensi AI

Meta dan Microsoft Umumkan PHK 20.000 Karyawan Akibat Efisiensi AI
Foto: Ilustrasi Meta dan Microsoft Umumkan PHK 20.000 Karyawan Akibat Efisiensi AI.

Raksasa teknologi Meta dan Microsoft memproyeksikan pemutusan hubungan kerja terhadap 20.000 karyawan pada Kamis (24/4/2026) sebagai langkah efisiensi perusahaan. Kebijakan ini menyusul tren serupa di industri teknologi global yang mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan secara masif, sebagaimana dilansir dari Money.

Meta secara spesifik akan memberhentikan sekitar 8.000 pekerja atau setara 10 persen dari total stafnya pada 20 Mei mendatang. Selain pemangkasan tersebut, perusahaan juga memutuskan untuk membatalkan rencana perekrutan 6.000 tenaga kerja baru yang sebelumnya telah diagendakan.

"Semua bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk menjalankan perusahaan secara lebih efisien dan untuk memungkinkan kami mengimbangi investasi lain yang kami lakukan," bunyi memo internal Meta yang dikutip dari CNBC.

Langkah efisiensi ini diambil di tengah pengeluaran besar perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat untuk membangun infrastruktur AI. Meskipun permintaan layanan AI meningkat tajam, perusahaan justru mengurangi jumlah manusia demi mengoptimalkan penggunaan teknologi tersebut dalam operasional harian.

CEO Salesforce, Marc Benioff, memberikan penegasan serupa saat mengumumkan pemberhentian 4.000 karyawannya pada September lalu. Keputusan tersebut didasari pada evaluasi kebutuhan tenaga kerja perusahaan yang terus berubah.

"I need fewer people," kata Benioff.

Kondisi ini memperpanjang daftar PHK di sektor teknologi yang menurut data Layoffs.fyi telah mencapai 92.000 pekerja sejak awal 2026. Oracle juga mencatatkan pemangkasan 20.000 hingga 30.000 staf yang diprediksi TD Cowen mampu meningkatkan arus kas perusahaan hingga 10 miliar dollar AS.

CEO Snap, Evan Spiegel, turut mengonfirmasi pemangkasan 1.000 karyawannya atau 16 persen staf pada Maret. Spiegel menyatakan bahwa faktor utama yang mendorong kebijakan pengurangan tenaga kerja di perusahaannya adalah penggunaan teknologi AI.

Pakar Kepemimpinan Anthony Tuggle menilai fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan perubahan struktural dalam dunia kerja global. Ia menyoroti peningkatan kekhawatiran sejak kemunculan ChatGPT dan asisten AI seperti Claude yang mampu menangani tugas divisi bisnis.

"We are witnessing the beginning of a permanent transformation in the way work is organized and executed across industries," ujar Tuggle.

Meskipun ada potensi terciptanya lapangan kerja baru, bentuk pekerjaan masa depan tersebut dinilai masih belum jelas. Kajian Motion Recruitment 2026 menunjukkan rekrutmen teknisi TI menurun, sementara gaji hanya meningkat bagi posisi spesifik seperti pengembang AI.

Pandangan mengenai ketidakpastian lapangan kerja baru ini juga didukung oleh CO Chef Robotics, Rajat Bhageria. Menurutnya, pemahaman mengenai kapasitas AI dalam menangani pekerjaan manusia masih berada pada tahap awal.

"We're just starting to understand how much of our daily jobs AI can handle for us across different types of work," kata Bhageria.

Artikel terkait

Rekomendasi