Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa sebanyak 1.058 kecelakaan terjadi di pelintasan sebidang kereta api dalam tiga tahun terakhir saat Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta pada Kamis (21/5/2026).
Dilansir dari Kompas, insiden di pelintasan sebidang tersebut kini menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Presiden Prabowo Subianto bahkan telah memberikan arahan langsung untuk mengoptimalkan infrastruktur keselamatan perjalanan kereta api, terutama pada titik-titik yang dinilai rawan kecelakaan.
"Data kecelakaan pelintasan sebidang dalam tiga tahun terakhir tercatat sebanyak 1.058 kejadian," kata Dudy Purwagandhi, Menteri Perhubungan.
Kementerian Perhubungan mencatat adanya penurunan jumlah kecelakaan dalam dua tahun terakhir. Pada 2024 terjadi 337 kecelakaan, lalu menurun menjadi 291 kejadian pada 2025, sedangkan hingga 1 Mei 2026 tercatat ada 102 kecelakaan.
"Hal ini menunjukkan berbagai langkah peningkatan keselamatan mulai memberikan dampak positif, meskipun upaya perbaikan masih harus terus diperkuat," ujar Dudy Purwagandhi, Menteri Perhubungan.
Mayoritas kecelakaan, yakni sekitar 80 persen, terjadi di pelintasan yang tidak terjaga. Dari total angka kecelakaan tersebut, kendaraan roda dua atau sepeda motor mendominasi keterlibatan sebesar 55 persen, sementara mobil mencapai 45 persen.
Pemerintah membangun keselamatan perjalanan kereta api melalui empat aspek utama, yaitu sarana, prasarana, sumber daya manusia, serta faktor eksternal seperti mitigasi cuaca ekstrem dan bencana alam. Dalam pengaturan operasional, Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) menjadi pedoman utama karena mengintegrasikan waktu, jarak, kecepatan, persilangan, hingga posisi perjalanan kereta secara nasional.
"Ketidakpatuhan terhadap Gapeka dapat berdampak serius mulai dari potensi kecelakaan, keterlambatan perjalanan, kerugian operasional dan finansial, hingga penurunan kualitas layanan kepada masyarakat," ujar Dudy Purwagandhi, Menteri Perhubungan.