Mengejutkan, Begini Cara Rifaldy Pakai AI Buat Riset Palsu di Konferensi Dunia 2026

Mengejutkan, Begini Cara Rifaldy Pakai AI Buat Riset Palsu di Konferensi Dunia 2026
Foto: Mengejutkan, Begini Cara Rifaldy Pakai AI Buat Riset Palsu di Konferensi Dunia 2026. (Illustration by Pexels)

Dunia akademik baru-baru ini diguncang oleh pengakuan mengejutkan dari seorang pemuda bernama Rifaldy Fajar terkait praktik kecurangan dalam penelitian. Rifaldy secara terbuka mengakui telah mencatut nama Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) dalam puluhan karya riset fiktif yang ia gunakan untuk mendaftar di berbagai konferensi internasional.

Kasus ini terungkap setelah Rifaldy memberikan klarifikasi melalui unggahan di akun Instagram resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UMB. Ia mengakui telah memasukkan nama institusi tersebut ke dalam 51 karya yang disebut sebagai riset palsu tanpa adanya izin atau konfirmasi kepada pihak kampus.

Pencatutan identitas ini tidak hanya menimpa pihak universitas, tetapi juga melibatkan anggota keluarganya sendiri secara tidak sah. Rifaldy mengungkapkan bahwa dari total karya tersebut, terdapat sekitar 15 karya yang mencantumkan nama ibu kandungnya, Elfiany Syafruddin, sebagai peneliti pertama dengan afiliasi UMB.

Rifaldy menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada pihak Universitas Muhammadiyah Bulukumba atas tindakan yang melanggar etika tersebut. Ia menyadari bahwa pencatutan nama kampus dilakukan secara sepihak dan menjadi kesalahan fatal dalam perjalanan karier akademiknya.

Rincian jumlah karya riset palsu yang dibuat oleh Rifaldy Fajar:

  • Sebanyak 15 karya mencantumkan nama ibu kandungnya sebagai penulis atau peneliti utama.
  • Terdapat 36 karya lainnya di mana nama tersebut diposisikan sebagai penulis kedua, ketiga, hingga penulis keempat.
  • Total keseluruhan riset yang mencatut nama individu dan institusi tersebut mencapai 51 judul karya ilmiah.

Data riset tersebut menunjukkan skala pemalsuan yang cukup besar dilakukan dalam kurun waktu yang relatif singkat. Rifaldy menegaskan bahwa seluruh rekapitulasi data ini baru ia selesaikan beberapa hari sebelum dirinya mendatangi pihak UMB untuk memberikan penjelasan resmi.

Tujuan utama di balik aksi nekat ini ternyata didasari oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan finansial dan fasilitas perjalanan. Rifaldy memaparkan bahwa penggunaan nama UMB dan ibu kandungnya digunakan sebagai syarat demi mendapatkan travel grant atau bantuan dana untuk menghadiri konferensi di luar negeri.

Aksi pencatutan nama institusi ini diakuinya telah berlangsung sejak tahun 2024 hingga rencana kegiatan untuk tahun 2025. Meski beberapa kegiatan dijadwalkan pada awal tahun 2026, pendaftaran riset-riset tersebut sudah ia lakukan sejak jauh-jauh hari pada akhir tahun 2025.

Pemanfaatan AI untuk Merekayasa Riset

Dalam proses pembuatan puluhan karya ilmiah tersebut, Rifaldy menjelaskan metode yang ia gunakan agar bisa lolos dalam seleksi konferensi dunia. Ia memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara masif untuk menyusun draf penelitian tanpa harus melakukan riset lapangan atau pengumpulan data yang valid.

Rifaldy mengaku bahwa sebagian besar konferensi yang ia ikuti hanya mensyaratkan pengiriman abstrak atau ringkasan karya saja. Kesempatan inilah yang ia manfaatkan dengan membuat karya yang terkesan sangat canggih namun sebenarnya berlebihan dan tidak berdasar pada fakta yang nyata.

Teknik yang digunakan Rifaldy dalam memanipulasi data penelitian menggunakan AI:

  • Meminta bantuan AI untuk membuatkan kode pemrograman (coding) secara dominan yang kemudian diolah menjadi narasi riset.
  • Menggunakan model matematika atau machine learning yang memungkinkan penggunaan parameter angka tanpa memerlukan data lapangan yang asli.
  • Memasukkan data acak atau data asli yang tidak relevan ke dalam ChatGPT untuk diproses menjadi analisis yang terlihat profesional secara otomatis.
  • Menerapkan metode proof of concept dengan menggunakan dummy data atau teknik resampling data demi mensimulasikan sebuah sistem penelitian.

Rifaldy berdalih bahwa dalam model penelitian yang ia geluti, penggunaan data asli terkadang tidak bersifat mutlak karena lebih menekankan pada simulasi sistem. Namun, ia mengakui bahwa ketergantungan pada AI dalam kasusnya sudah sangat berlebihan sehingga batas antara karya orisinal dan hasil AI menjadi sangat kabur.

Penggunaan AI yang dikombinasikan dengan berbagai teknik simulasi data membuatnya sulit menjelaskan secara rinci alur penelitian yang ia buat. Hal ini terjadi karena prosesnya sangat tumpang tindih antara instruksi yang ia berikan dan hasil otomatisasi dari platform kecerdasan buatan tersebut.

Konsekuensi dan Upaya Penarikan Karya

Rifaldy mengakui bahwa seluruh tindakannya didorong oleh ambisi pribadi demi mengejar hibah dana dan eksistensi di kancah internasional. Ia sadar telah melanggar kode etik akademis karena bertindak sewenang-wenang tanpa mempertimbangkan dampak negatif bagi institusi yang ia catut namanya.

Sebagai bentuk tanggung jawab, ia menyatakan kesiapannya untuk mengikuti segala proses hukum atau sanksi yang ditetapkan oleh Universitas Muhammadiyah Bulukumba. Di sisi lain, pihak kampus telah mendesak Rifaldy untuk segera menarik kembali seluruh karya ilmiah yang telah menyebar di berbagai platform konferensi.

Informasi mengenai status publikasi dan upaya penarikan riset tersebut:

Status Karya Detail Penjelasan
Bentuk Publikasi Mayoritas masih dalam bentuk abstrak untuk presentasi poster atau oral, belum mencapai tahap full paper.
Upaya Retraksi Rifaldy sudah mulai mengirimkan email permohonan penarikan (withdraw) kepada pihak penyelenggara konferensi.
Respon Penyelenggara Baru dua karya yang mendapatkan respons resmi untuk ditarik dari daftar publikasi.
Tantangan Beberapa karya sulit ditarik karena kegiatan sudah berlangsung sejak tahun 2024 lalu.

Penarikan karya riset yang sudah dipublikasikan di masa lalu menjadi tantangan tersendiri bagi Rifaldy karena beberapa acara telah selesai diselenggarakan. Meskipun demikian, ia berjanji akan terus berupaya mencari jalan keluar agar nama UMB tidak lagi terkait dengan riset-riset bermasalah tersebut.

Kasus ini menjadi sorotan tajam setelah sebelumnya sempat viral di media sosial dan mendapat perhatian dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Praktik ini dinilai dapat memberikan citra negatif bagi komunitas peneliti Indonesia di mata dunia dan merusak kredibilitas akademik nasional.

Rifaldy Fajar sendiri merupakan alumni dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), di mana pihak kampus asalnya pun telah mengonfirmasi identitas pelaku. Pihak UNY menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan aksi individu yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan akademik resmi di kampus mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi