Suplemen Melatonin Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Gagal Jantung

Suplemen Melatonin Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Gagal Jantung
Foto: Ilustrasi Suplemen Melatonin Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Gagal Jantung.

Konsumsi suplemen melatonin dalam jangka panjang ditemukan dapat meningkatkan risiko gagal jantung, rawat inap, hingga kematian pada pasien insomnia kronis. Temuan medis tersebut dipaparkan dalam forum ilmiah internasional American Heart AssociationÔÇÖs Scientific Sessions 2025.

Risiko gagal jantung bagi pengguna melatonin jangka panjang melonjak hingga hampir 90 persen dalam kurun waktu lima tahun. Data kesehatan ini terungkap berdasarkan hasil penelitian terhadap 130.828 orang dewasa dengan diagnosis insomnia kronis, seperti dilansir dari Media Indonesia pada Kamis (29/5/2026).

Riset ini membandingkan 65.414 peserta yang menggunakan melatonin minimal selama satu tahun dengan kelompok kontrol yang tidak mengonsumsinya. Angka kejadian gagal jantung tercatat sebesar 4,6 persen pada pengguna suplemen, sementara kelompok kontrol hanya 2,7 persen. Pengguna melatonin juga memiliki risiko rawat inap 3,5 kali lebih tinggi dan risiko kematian dua kali lipat lebih besar.

Data rekam medis elektronik peserta selama lima tahun tersebut diambil secara anonim dari TriNetX Global Research Network. Guna menjaga akurasi, peneliti telah menyortir dan mengecualikan pasien dengan riwayat awal gagal jantung atau pengguna obat tidur jenis benzodiazepin.

Analisis sensitivitas tambahan juga dilakukan dengan memperketat kriteria, di mana peserta harus menebus minimal dua resep melatonin berjarak minimal 90 hari. Hasil pengujian ketat tersebut tetap menunjukkan konsistensi peningkatan risiko gangguan jantung yang serupa.

Pihak peneliti menegaskan bahwa studi ini baru menunjukkan korelasi dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Faktor eksternal seperti tingkat keparahan insomnia, gangguan kecemasan, depresi, atau penggunaan obat lain berpotensi ikut memengaruhi kondisi jantung pasien.

Keterbatasan studi juga terletak pada perbedaan regulasi antarnegara, seperti di Inggris yang mewajibkan resep dokter berbanding terbalik dengan Amerika Serikat yang menjual bebas melatonin. Selain itu, abstrak penelitian ini juga mencatat belum adanya proses peer review secara formal.

"Melatonin mungkin tidak seaman yang selama ini diasumsikan masyarakat. Jika hasil penelitian ini terbukti lebih lanjut, temuan ini dapat memengaruhi cara dokter memberikan saran terkait penggunaan obat bantu tidur," ujar Dr. Ekenedilichukwu Nnadi, peneliti utama studi dari SUNY Downstate/Kings County Primary Care di Brooklyn, New York.

Pakar kesehatan tidur mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam menggunakan obat penunjang tidur komersial tanpa adanya pengawasan medis yang jelas. Suplemen tidur tetap harus dikonsumsi sesuai kebutuhan medis yang mendesak.

"Melatonin sebenarnya tidak direkomendasikan sebagai terapi utama insomnia. Karena dijual bebas, banyak orang menganggap penggunaannya aman untuk jangka panjang tanpa pengawasan medis," kata Marie-Pierre St-Onge, pakar tidur sekaligus profesor kedokteran nutrisi di Columbia University Irving Medical Center.

Artikel terkait

Rekomendasi