Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Irak untuk Indonesia, Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy, di kediamannya, Menteng, Jakarta, pada Senin (27/4/2026). Pertemuan tersebut membahas dinamika geopolitik di Timur Tengah, terutama eskalasi konflik yang melibatkan Iran.
Diskusi kedua tokoh tersebut menyoroti upaya menjaga perdamaian kawasan di tengah meningkatnya tensi militer. Dilansir dari Nasional, pemerintah Irak menyatakan sikap tegas terhadap keterlibatan pihak asing dalam konflik di wilayah mereka.
"Pemerintah kami secara resmi mengutuk serangan AS dan Israel ke Iran, namun juga mengutuk serangan balasan Iran terhadap negara-negara tetangganya. Kami menolak perang ini, kami menjunjung tinggi mekanisme dialog, negosiasi dan perdamaian," tegas Al-Khalidy, Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Irak.
Perwakilan diplomatik Irak tersebut juga menyampaikan harapan agar jalinan komunikasi antara kedua negara tetap harmonis. Pihaknya mengapresiasi posisi konsisten Indonesia dalam menyikapi konflik kedaulatan di masa lalu.
"Hubungan Indonesia dan Irak sudah masuk tahun ke-76, kami terus berharap tetap kuat dan hangat, kami juga tahu sikap Ibu Megawati saat menjadi presiden yang menolak serangan terhadap Irak tahun 2003," pungkas Al-Khalidy.
Al-Khalidy menambahkan bahwa memori sejarah antara kedua bangsa masih tersimpan rapi dalam arsip negara mereka.
"Kami masih menyimpan film dokumenter kunjungan bersejarah tersebut," kata Al-Khalidy.
Menanggapi situasi di Timur Tengah, Megawati Soekarnoputri menyatakan bahwa aksi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel merupakan bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan sebuah negara merdeka. Ia turut menceritakan pengalaman diplomasinya saat menghadapi tekanan global di masa jabatannya.
"Saya ini berteman dengan George W Bush, Presiden AS saat itu, tapi sikap politik kami berbeda, saya menolak serangan AS terhadap Irak tahun 2003 saat saya masih Presiden Indonesia," kata Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI.
Ketua Umum PDI-P itu juga menyinggung prinsip Indonesia dalam menghadapi isu terorisme global pasca insiden besar di Amerika Serikat. Ia menegaskan pentingnya memisahkan tindakan kriminal terorisme dari identitas keagamaan.
"Saya presiden pertama yang datang ke AS setelah peristiwa 11 September bertemu Presiden Bush menyampaikan simpati saya dan mengutuk terorisme, tapi saya juga menyampaikan penolakan saya mengaitkan terorisme dengan ajaran Islam," ujar Megawati Soekarnoputri.