Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri melontarkan kritik terhadap para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dinilai lebih mengutamakan pencapaian gelar akademik dibandingkan pengabdian nyata bagi bangsa. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (2/5/2026) di Universitas Borobudur, Jakarta.
Kritik tersebut diutarakan dalam sambutan pada acara Pengukuhan Gelar Profesor Emeritus untuk Mantan Hakim Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat. Dilansir dari Nasional, Megawati yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN menyoroti orientasi kerja ribuan peneliti di lembaga riset negara tersebut.
"Karena saya pun di BRIN, Badan Riset Inovasi Nasional. Itu berapa sih researcher-nya? 8.144. Loh, saya bilang kamu orang pintar, bekerja dong buat Indonesia," ujar Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia.
Megawati menegaskan bahwa kepintaran para peneliti seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan nasional. Ia meminta para akademisi tidak terjebak pada formalitas administratif seperti publikasi jurnal saja.
"Jangan hanya mencari yang, maaf beribu maaf, jangan hanya mencari gelar-gelar atau membuat jurnal-jurnal," lanjut Megawati.
Ketua Umum PDI Perjuangan ini juga menceritakan momen saat dirinya menanggapi keraguan sejumlah pihak mengenai kompetensinya memimpin Dewan Pengarah BRIN. Ia menyebut para peneliti sempat terdiam saat ia memaparkan kualifikasi akademik yang dimilikinya.
"Mereka baru melongo. Ketika kalian melihat saya kenapa Ibu yang dijadikan ketua ya? Nah, itu jadi terpaksa saya sombongkan. Kamu (peneliti) mau lawan saya boleh. Saya yaitu profesor tiga, ininya (gelar honoris clausa) 11. Silakan (kalau mau dilawan)," kata Megawati.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan keteguhan prinsip moral. Menurutnya, banyak individu pintar yang kehilangan arah karena tidak menggunakan hati nurani dalam bekerja.
"Karena banyak orang pinter juga tapi ininya (menunjuk ke hati) tidak teguh," kata Megawati.
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan pakar hukum terkemuka. Terlihat hadir mantan Menko Polhukam Mahfud MD, mantan Menkumham Yasonna Laoly, serta Jampidum Asep Nana Mulyana.
Selain itu, tampak pula jajaran hakim Mahkamah Konstitusi aktif seperti Suhartoyo dan Saldi Isra yang hadir sebagai rekan sejawat Arief Hidayat. Prosesi pengukuhan Profesor Emeritus ini dihadiri oleh berbagai rektor dan guru besar dari universitas lain di Indonesia.