Sebuah megatsunami setinggi 481 meter menghantam kawasan wisata Tracy Arm Fjord di Hutan Nasional Tongass, Alaska, Amerika Serikat pada Minggu, 10 Agustus 2025 pukul 05.30 pagi waktu setempat. Bencana yang dipicu oleh longsoran batu besar akibat dampak perubahan iklim ini tercatat sebagai tsunami tertinggi kedua dalam sejarah.
Gelombang dahsyat ini dilaporkan tidak memakan korban luka karena waktu kejadiannya yang sangat pagi, saat belum ada kapal pesiar atau perahu yang beroperasi di area tersebut. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik iNET, para ilmuwan mengonfirmasi bahwa ketinggian gelombang tersebut jauh melampaui gedung The Shard di London maupun Empire State Building di New York.
Analisis peneliti menunjukkan bahwa pemanasan suhu global telah menyebabkan gletser yang selama ini menyangga gunung menyusut secara signifikan. Kondisi tersebut mengakibatkan bebatuan kehilangan tumpuan hingga akhirnya runtuh dan memicu tanah longsor yang menggerakkan volume air dalam jumlah masif di ruang sempit fjord.
Pakar geomorfologi Universitas Calgary sekaligus penulis utama studi, Dan Shugar, menekankan bahwa absennya kapal di lokasi kejadian merupakan faktor keberuntungan utama. Kejadian ini menjadi pengingat serius akan potensi bahaya serupa di masa depan akibat krisis iklim.
"Fakta bahwa tanah longsor terjadi sepagi ini adalah sebuah keberuntungan yang luar biasa. Di lain waktu-dan pasti akan ada waktu berikutnya-kita mungkin tidak akan seberuntung ini," cetus Dan Shugar, Pakar geomorfologi Universitas Calgary.
Tim peneliti mencatat bahwa kekuatan tsunami tersebut menyapu bersih vegetasi hutan dengan sangat ganas pada dinding batu yang curam. Perbedaan kondisi alam sebelum dan sesudah hantaman gelombang terlihat sangat kontras melalui pemetaan garis batas vegetasi yang hilang.
"Vegetasi yang tersapu bersih pada dasarnya membentuk garis pembatas yang sangat tajam. Di bagian bawahnya hanya tersisa batu, sedimen, dan beberapa tunggul pohon, sementara di atasnya masih terdapat hutan perawan yang berdiri utuh seperti pada 9 Agustus sebelum tsunami terjadi. Bagaikan dua dunia berbeda," papar Dan Shugar, Pakar geomorfologi Universitas Calgary.
Karena tidak adanya rekaman video saat kejadian, para ilmuwan melakukan rekonstruksi peristiwa menggunakan data seismik dan foto udara pasca-kejadian. Mereka memperkirakan sekitar 83 juta yard kubik batu runtuh dalam durasi sekitar satu menit, yang setara dengan 24 kali volume Piramida Agung Giza.
Ahli geofisika University College London, Stephen Hicks, menyatakan bahwa skala runtuhan tersebut sangat besar hingga getarannya terdeteksi oleh instrumen pemantau di berbagai belahan dunia.
"Keruntuhan ini memicu gelombang seismik yang terpantau di seluruh dunia," sebut Stephen Hicks, Ahli geofisika University College London.