Psikiater Lahargo Kembaren memperingatkan risiko gangguan kesehatan mental akibat budaya membandingkan diri atau comparison culture di media sosial pada Kamis (14/5/2026). Fenomena ini dinilai memicu kecemasan dan rasa tidak puas, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu rumah tangga.
Paparan informasi yang masif di platform digital dilansir dari Lifestyle dapat menyebabkan kelelahan emosional dan stres. Kondisi tersebut diperparah oleh kebiasaan pengguna yang terus-menerus memantau pencapaian hidup orang lain yang tampak ideal di layar gawai mereka.
Lahargo menegaskan bahwa kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan standar orang lain merupakan faktor utama yang merusak kesejahteraan psikologis seseorang.
"Comparison culture atau membanding-bandingkan itu pencuri utama kebahagiaan," kata Lahargo, Psikiater.
Penurunan rasa percaya diri hingga munculnya rasa takut tertinggal tren atau Fear of Missing Out (FOMO) menjadi dampak jangka panjang dari fenomena ini. Otak yang terus menyerap konten tanpa henti tanpa waktu istirahat yang cukup berisiko mengalami overstimulasi.
Selain masalah individu, Lahargo menyoroti bagaimana ketergantungan pada gawai telah menggeser pola komunikasi di dalam lingkungan domestik yang seharusnya menjadi tempat berlindung.
"Keluarga yang harusnya menjadi tempat nyaman dan aman, di masa sekarang justru berbalik menjadi sumber masalah," ujar Lahargo, Psikiater.
Kurangnya interaksi fisik di rumah dapat memicu rasa kesepian pada anak dan mendorong mereka mencari pelarian ke dunia maya. Guna meminimalisasi dampak negatif tersebut, masyarakat disarankan untuk membatasi durasi penggunaan gawai dan membangun kembali komunikasi hangat dengan anggota keluarga tanpa gangguan layar ponsel.