Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Steril Jelang Kedatangan Jemaah Haji 2026

Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Steril Jelang Kedatangan Jemaah Haji 2026
Foto: Ilustrasi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Steril Jelang Kedatangan Jemaah Haji 2026.

Kondisi di Masjidil Haram, Mekah, dan Masjid Nabawi, Madinah, mulai menunjukkan perubahan signifikan menjelang kedatangan jemaah haji tahun 1447 H/2026 M. Sterilisasi area suci ini dilakukan seiring berakhirnya musim umrah dan dimulainya persiapan menyambut tamu Allah.

Dilansir dari Cahaya, suasana di kedua masjid utama tersebut terpantau lebih lengang dari biasanya. Penurunan kepadatan ini memberikan ruang bagi otoritas setempat untuk melakukan berbagai persiapan teknis di titik-titik krusial ibadah.

Di Masjidil Haram, bagian bawah kiswah atau kain penutup Kaabah telah disingkap setinggi sekitar tiga meter. Bagian yang diangkat tersebut kemudian dibalut dengan kain putih, sebuah tradisi tahunan yang menandakan musim haji resmi dimulai.

Kondisi yang tidak terlalu padat membuat akses menuju area mustajab menjadi lebih terbuka. Jemaah kini dapat menjangkau Multazam, Hijr Ismail, hingga mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani tanpa perlu mengantre panjang atau berdesakan.

Ketertiban juga terlihat jelas pada pelaksanaan salat sunah di belakang Maqam Ibrahim serta di lintasan Sai antara Bukit Shafa dan Marwah. Sejak 13 April 2026, Arab Saudi telah memperketat akses masuk ke Mekah bagi mereka yang tidak memiliki izin resmi.

Kebijakan tegas bertajuk "Tidak Ada Haji Tanpa Izin" ini diberlakukan sebagai langkah preventif. Tujuannya adalah memastikan keamanan, ketertiban, dan keselamatan seluruh jemaah selama rangkaian puncak ibadah haji berlangsung.

Kesiapan Masjid Nabawi dan Kedatangan Kloter Pertama

Suasana tenang juga menyelimuti Masjid Nabawi di Madinah. Pantauan pada Selasa (21/4/2026) menunjukkan jemaah salat subuh tidak sepadat saat puncak musim haji, sehingga tersedia banyak ruang lega di dalam maupun pelataran masjid.

Gelombang kedatangan jemaah haji 2026 dijadwalkan mulai mendarat di Bandara Internasional Pangeran Mohammad Bin Abdulaziz pada Rabu (22/4/2026). Kelompok Terbang (kloter) pertama ini akan langsung menuju penginapan di Madinah.

Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Haji dan Umrah, Budi Agung Nugroho, menyatakan bahwa pergerakan jemaah dari bandara akan diawasi secara ketat. Pihaknya berkoordinasi dengan syarikah agar mobilisasi jemaah menuju bus berjalan terorganisasi.

"Pergerakan jemaah diatur berdasarkan regu dan rombongan agar sejak dari bandara hingga pembagian kamar hotel tetap dalam satu kelompok. Ini penting untuk menjaga ketertiban," kata Budi.

Pemerintah menyiagakan 682 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Daerah Kerja (Daker) Madinah dan Bandara. Mereka bertugas mengurus akomodasi, transportasi, hingga memastikan koper bagasi tiba dengan aman di kamar masing-masing jemaah.

Selama di Madinah, jemaah direncanakan menetap selama delapan hingga sembilan hari dengan fasilitas konsumsi maksimal 27 kali makan.

"Setelah itu, jemaah akan diberangkatkan ke Mekkah untuk mengikuti rangkaian puncak ibadah haji," ujar Budi.

Artikel terkait

Rekomendasi