KAI Pastikan Masinis Argo Bromo Anggrek Selamat Usai Tabrakan di Bekasi

KAI Pastikan Masinis Argo Bromo Anggrek Selamat Usai Tabrakan di Bekasi
Foto: Ilustrasi KAI Pastikan Masinis Argo Bromo Anggrek Selamat Usai Tabrakan di Bekasi.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan masinis KA Argo Bromo Anggrek dalam kondisi selamat setelah terlibat kecelakaan hebat dengan Commuter Line di Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, malam. Insiden fatal tersebut mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.

Kabar mengenai kondisi awak sarana perkeretaapian tersebut disampaikan langsung oleh manajemen perusahaan guna menanggapi simpang siur informasi di masyarakat. Dilansir dari Suara, identitas tim pengoperasi lokomotif sempat menjadi perbincangan publik setelah rekaman siaran langsung di kanal YouTube Trainspotter ID beredar luas.

"Sudah di luar. Kondisinya baik," kata Dirut KAI Bobby Rasyidin, kepada media pada Selasa (28/4/2026).

Meskipun kondisi kesehatan masinis telah dikonfirmasi, pihak manajemen KAI masih belum merilis identitas resmi kru yang bertugas saat kejadian. Namun, sejumlah informasi yang beredar di kalangan Railfans menyebutkan nama Ahmad Nofiandi sebagai masinis dan Freddy Jeriroger sebagai asisten masinis.

Kecelakaan ini diduga dipicu oleh gangguan teknis pada infrastruktur pendukung perjalanan kereta di lokasi kejadian. Berdasarkan keterangan awal petugas di lapangan, terdapat indikasi kesalahan pada sistem persinyalan yang memberikan instruksi tidak konsisten kepada awak kereta saat melaju kencang.

"Enggak miskomunikasi, kayaknya ini sinyal ada yang eror," ungkap Nofiandi, Masinis.

Nofiandi sempat memberikan penjelasan mengenai komunikasi dengan Pusat Kendali Kereta Api (OCC) sebelum benturan terjadi. Ia menyebutkan bahwa peringatan sinyal muncul secara mendadak sebelum dirinya sempat mencerna seluruh informasi kendali.

"Tadi nginfoin PK-nya (Pusat Kendali Kereta Api atau OCC), cuman saya belum kopi informasi sepenuhnya, udah keburu sinyal merah ini," jawab Nofiandi, Masinis.

Kecepatan kereta saat mendekati titik tabrakan dilaporkan berada pada angka yang cukup tinggi yakni sekitar 110 kilometer per jam. Masinis menilai adanya ketidakwajaran dalam logika sistem persinyalan antara stasiun Bekasi dengan titik kejadian yang seharusnya tidak langsung menunjukkan indikator merah.

"Dibilang mendadak sih enggak, cuman harusnya itu kan enggak bisa merah, soalnya dari Bekasinya hijau. Koneksi harusnya kalau hijau, sini maksimal kuning, enggak bisa merah. Kalau soal kecepatan, kecepatannya lumayan, udah hampir menyentuh 100 kan? 110-an," pungkas Nofiandi, Masinis.

Artikel terkait

Rekomendasi