Seorang pria bernama Marc Rieben didakwa atas pembunuhan sadis terhadap istrinya, Kristina Joksimovic, di Binningen, dekat Basel, Swiss, setelah proses penyelidikan mengungkap detail mutilasi keji pada Desember 2025 lalu. Pelaku yang berusia 41 tahun tersebut menghabisi nyawa mantan finalis Miss Switzerland itu dengan cara mencekik korban menggunakan tali.
Pembunuhan brutal ini dilatarbelakangi oleh konflik rumah tangga saat Kristina menyatakan keinginannya untuk bercerai. Dilansir dari Wolipop, pasangan tersebut terlibat pertengkaran hebat terkait masalah keuangan serta hak asuh anak sebelum insiden maut itu terjadi.
Laporan pengadilan yang diperoleh Daily Mail menyebutkan bahwa Marc diduga membanting dan mencekik istrinya yang berusia 38 tahun tersebut hingga tewas. Kepolisian mengungkapkan jasad korban kemudian dipotong secara sistematis menggunakan pisau dan gunting kebun, termasuk mencabut organ rahim dari tubuhnya.
Metode penghilangan jejak yang dilakukan pelaku tergolong ekstrem karena beberapa bagian tubuh korban dihancurkan menggunakan alat blender industri. Sisa-sisa bagian tubuh tersebut kemudian dilarutkan ke dalam cairan kimia oleh pelaku untuk menghilangkan bukti fisik.
Dokumen pengadilan juga mengungkap perilaku mengejutkan Marc yang sempat menonton video di YouTube saat melakukan aksi kejinya tersebut. Para ahli forensik memberikan penegasan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk mutilasi yang disengaja serta penghinaan terhadap tubuh manusia.
Penemuan jasad Kristina bermula saat ayah korban melakukan pencarian di kediaman pasangan tersebut. Ia menemukan potongan tubuh di dalam kantong plastik hitam yang disembunyikan di area ruang cuci rumah mereka.
Seorang teman dekat keluarga memaparkan bahwa Marc awalnya bersikap seolah tidak mengetahui keberadaan sang istri dan mengklaim bahwa korban sering meninggalkan rumah tanpa pamit.
"Saat ayahnya membuka kantong plastik itu, ia menemukan kepala korban yang sudah terpisah," ungkap sumber tersebut.
Meskipun bukti-bukti forensik menunjukkan adanya pemisahan bagian tubuh secara sistematis, Marc Rieben tetap berdalih bahwa tindakannya merupakan upaya perlindungan diri. Saat ini proses hukum terhadap pelaku masih terus berlanjut di pengadilan Swiss mengingat skala kekejaman kasus yang menjadi perhatian publik tersebut.