Teknologi nuklir kini bertransformasi menjadi inovasi medis mutakhir untuk mendeteksi serta menangani berbagai penyakit berat, termasuk kanker. Pemanfaatan zat radioaktif dalam dunia kedokteran modern memungkinkan proses diagnosis dan terapi berjalan lebih efektif dengan tingkat keamanan yang terjaga.
Dilansir dari Detik Health, layanan kedokteran nuklir masa kini hadir untuk memperkuat perencanaan hingga evaluasi pengobatan pasien. Pendekatan ini mengutamakan standar keselamatan tinggi agar paparan radiasi tetap berada pada level seminimal mungkin bagi tubuh manusia.
Dokter spesialis kedokteran nuklir dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Lim Andreas, Sp.KN, menekankan perlunya pelurusan persepsi masyarakat mengenai penggunaan nuklir di ranah medis. Menurutnya, nuklir dalam konteks ini bukanlah sesuatu yang bersifat merusak seperti reaktor besar.
"Nuklir yang dimaksud dalam layanan kedokteran nuklir bukanlah bom atau reaktor besar yang merusak, melainkan zat radioaktif atau yang disebut radiofarmaka dengan prinsip menjaga paparan radiasi serendah mungkin, sehingga dokter dapat melihat dan menilai struktur serta fungsi organ untuk diagnosis, perencanaan terapi, evaluasi pengobatan, hingga terapi berbasis target," kata dr. Lim Andreas.
Layanan kedokteran nuklir bekerja secara terintegrasi untuk menjamin keberlanjutan perawatan pasien. Tahap awal melibatkan alat diagnosis canggih seperti PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan guna memetakan stadium penyakit secara akurat serta memantau respon tubuh terhadap pengobatan.
Selanjutnya, metode ini mencakup penggunaan radiofarmaka, yakni zat radioaktif dosis aman yang dirancang untuk menyerang sel penyakit secara spesifik. Teknologi ini memberikan alternatif bagi pasien karena sifatnya yang terarah dan minim tindakan invasif.
"Terapi radiofarmaka memiliki sejumlah keunggulan, seperti bekerja secara terarah dengan presisi tinggi, minim tindakan karena tidak memerlukan pembedahan, terintegrasi dengan teknologi diagnostik PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan, serta dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien," ungkap dr. Lim Andreas.
Cakupan Penyakit yang Dapat Ditangani
Pemanfaatan layanan kedokteran nuklir tidak hanya terbatas pada penyakit kanker. Berbagai gangguan kesehatan kronis lainnya juga dapat dideteksi dan dievaluasi menggunakan teknologi pemindaian radioaktif ini untuk mendapatkan gambaran kondisi tubuh secara menyeluruh.
"Layanan kedokteran nuklir dapat membantu diagnosis dan terapi pada berbagai penyakit, seperti kanker (payudara, paru, tiroid, dan kanker prostat), penyakit jantung untuk melihat aliran darah, gangguan otak seperti epilepsi dan demensia, hingga kelainan tulang termasuk infeksi tulang dan penyebaran kanker tulang (metastasis), gangguan kelenjar tiroid, kelainan metabolik, hingga penyakit yang membutuhkan terapi berbasis target," lanjutnya.
Akurasi diagnosis menjadi manfaat utama yang dirasakan pasien melalui metode ini. Penggunaan zat radioaktif yang terukur membantu tim medis dalam mengendalikan sel penyakit tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya secara berlebihan.
"Pasien dapat memperoleh hasil diagnosis yang akurat, memberikan gambaran kondisi tubuh secara menyeluruh, memantau respons terapi, serta mendukung pengobatan yang lebih tepat sasaran melalui penggunaan zat radioaktif dalam dosis aman untuk mengendalikan sel penyakit," tuturnya.
Fasilitas Teknologi Radiasi Rendah
Menanggapi tren peningkatan kasus kanker di Indonesia, ketersediaan fasilitas kedokteran nuklir menjadi semakin krusial. Mayapada Hospital Jakarta Selatan kini mengoperasikan unit Nuclear Medicine and Molecular Imaging yang mengusung teknologi paparan radiasi rendah (low radiation).
Keberadaan alat PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan terbaru ini berfungsi krusial bagi pasien yang memerlukan evaluasi medis secara berulang. Teknologi tersebut bertujuan meminimalkan risiko jangka panjang akibat paparan radiasi tanpa mengurangi ketajaman hasil citra medis.
Layanan ini merupakan bagian dari ekosistem Comprehensive Cancer Care yang didukung oleh tim multidisiplin. Penanganan pasien dilakukan secara kolaboratif melalui Tumor Board dan pendampingan oleh Patient Navigator untuk memastikan seluruh proses pengobatan berjalan optimal.
Masyarakat yang memerlukan konsultasi terkait layanan ini dapat mengakses saluran komunikasi resmi rumah sakit. Tersedia layanan call center 150770 serta aplikasi MyCare yang juga menyediakan informasi kesehatan rutin bagi para penggunanya.