Pemerintah Malaysia mengalokasikan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 7 miliar ringgit atau setara Rp 30,1 triliun pada bulan April 2026 ini. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga energi domestik di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran.
Lonjakan alokasi dana tersebut mencapai 10 kali lipat dibandingkan periode sebelum konflik pecah. Dilansir dari Detik Finance, Kementerian Keuangan Malaysia menyatakan bahwa total anggaran tersebut sudah mencakup dana tambahan senilai 75 juta ringgit untuk menyokong tiga program bantuan solar.
Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah, menjelaskan bahwa intervensi pemerintah diperlukan agar tekanan biaya energi tidak langsung berdampak pada inflasi barang konsumsi. Upaya ini dilakukan untuk menahan beban ekonomi agar tidak membebani masyarakat dan sektor industri secara mendadak.
"Jika tekanan biaya tidak segera dikendalikan, maka bisa berujung pada kenaikan harga barang di tingkat konsumen," ujar Akmal Nasrullah, Menteri Ekonomi Malaysia. Ia menambahkan bahwa krisis kali ini memiliki karakteristik berbeda karena dampaknya diprediksi muncul secara bertahap hingga tahun depan.
Data pemerintah menunjukkan bahwa sebelum konflik terjadi, anggaran subsidi energi Malaysia hanya berada di kisaran 700 juta ringgit. Saat ini, harga bensin jenis RON 95 masih dipertahankan pada angka 1,99 ringgit per liter, menjadikannya salah satu yang termurah di pasar global.
Kontras dengan harga bensin, harga solar di Malaysia telah menyentuh rekor tertinggi sebesar 6,72 ringgit per liter. Untuk memitigasi dampak bagi sektor pangan, pemerintah mengumumkan kenaikan subsidi solar bagi petani padi dan tambahan bantuan bulanan pada 14 April lalu.
Malaysia sebenarnya telah memulai reformasi kebijakan dengan menghapus subsidi BBM secara masif sejak tahun 2024. Kebijakan tersebut diganti dengan skema bantuan yang lebih tertarget bagi kelompok masyarakat tertentu agar anggaran negara lebih efektif.
Sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, Malaysia berencana meningkatkan komposisi biodiesel dari B10 menjadi B15. Tahapan transisi akan diawali dengan penerapan B12 menggunakan infrastruktur distribusi yang sudah tersedia tanpa membebankan biaya tambahan kepada konsumen.