Tiga mahasiswa asal University of British Columbia (UBC), Kanada, mengunjungi Bank Sampah Siliwangi di Sukamulya, Kota Bogor, pada Selasa (12/5/2026) untuk mendalami teknik pengolahan sampah organik melalui media maggot Black Soldier Fly (BSF). Proyek kolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini berfokus pada solusi pengelolaan limbah berbasis lingkungan.
Kunjungan tersebut melibatkan tiga mahasiswa bernama Adam, Emese, dan Nathan yang meninjau langsung efektivitas larva lalat tentara hitam dalam mereduksi volume sampah sisa makanan. Dilansir dari Megapolitan, metode alami ini dinilai sebagai terobosan dalam mengurangi ketergantungan pada pemrosesan sampah berbasis mesin.
Adam, salah satu mahasiswa UBC, mengungkapkan bahwa sistem pemanfaatan maggot ini merupakan metode baru yang memberikan perspektif berbeda dalam penanganan limbah domestik. Ia menyoroti potensi ekonomi dan sosial yang muncul dari penerapan teknologi hayati tersebut di tingkat lokal.
"Dan sepertinya ini telah membawa banyak (peluang), saya tidak tahu, banyak peluang bagi masyarakat," kata Adam.
Mahasiswa lainnya, Emese, memberikan apresiasi terhadap penggunaan maggot yang menurutnya memiliki fungsi ganda sebagai pengurai sekaligus sumber protein untuk pakan ternak. Penekanan pada proses alami dianggap lebih berkelanjutan dibandingkan penggunaan teknologi mekanis yang kompleks.
"Jadi menarik untuk melihat bahwa ada alternatif lain selain mesin. Dan kita harus kembali ke proses yang lebih alami daripada selalu fokus pada mesin dan teknologi," ujar Emese.
Sementara itu, Nathan menilai praktik di Bank Sampah Siliwangi sangat relevan bagi masyarakat karena menggabungkan solusi berbasis alam dengan upaya edukasi. Ia menggarisbawahi pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pemilahan sampah yang tepat.
"Dan juga selain dari solusi berbasis alam, saya merasa sangat luar biasa bahwa mereka juga fokus pada pendidikan untuk komunitas yang lebih muda untuk, ya, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pemilahan sampah dan perlindungan lingkungan," ujar Nathan.
Pembina Bank Sampah Siliwangi, Dadang Sutarsa, menjelaskan bahwa metode ini secara signifikan mempercepat proses penguraian sampah organik sehingga mengurangi beban limbah yang dikirim ke TPA Galuga. Meskipun awalnya masyarakat merasa enggan, tingkat penerimaan warga terhadap penggunaan maggot terus meningkat.
"Awalnya banyak yang geli. Tapi lama-lama mereka terbiasa, bahkan ada yang sekarang memegang maggot tanpa sarung tangan," kata Dadang.
Efisiensi maggot BSF tidak hanya terbatas pada pengurangan volume limbah, tetapi juga menghasilkan residu berupa pupuk organik. Dadang berharap sistem pengolahan dari sumbernya ini dapat diadopsi lebih luas untuk menciptakan nilai ekonomi dari pakan ternak berbasis larva.